Make your own free website on Tripod.com

Itu Bulan Dilihat Tonji

Oleh Idwar Anwar

 

Daeng  Raba pulang tergesa-gesa. Wajahnya nampak  kelelahan. Keringat  ditubuhnya mengucur deras membasahi pakaian kumal  yang biasa  dipakainya  menggayuh becak. Setiap hari ia  memang  harus membanting  tulang  untuk menghidupi keluarganya, dengan  empat orang anak yang masih kecil-kecil.

"Andi',  kopimu rong!" teriaknya sambil  menghenyakkan  pantatnya diatas kursi bambu yang dibuatnya sendiri.

"Iye', tunggu sebentar, daeng."

"Cepat ko."

"Sebentar."  Daeng  Tima  buru-buru  keluar  sambil  membawa segelas kopi, hingga sarung yang dikenakannya hampir saja  terlepas.

"Ngapa na lama kamma."

"Ngapa  ki, daeng, baru pulang langsung marah-marah."  Diletakkannya  kopi yang dibawa di dekat suaminya yang begitu  dicintai,  yang  menikahinya 6 tahun yang lalu. Saat  itu  Daeng  Tima masih berumur 16 tahun.

"Manusia memang terkadang tidak peduli dan menghargai pekejaaan  dan  jerih payah orang  lain,"  ketusnya.   Dikeluarkannya tembakau dan kertas rokok dari kantong bajunya.

"Ada  apa, Daeng. Dari tadi kuliat ki' marah-marah  terus." Dihenyakkanya patatnya disamping Daeng Raba.

"Jadi  tukang  becak  susah  mentong,  Ndi'.  Tenaga   habis terkuras, tapi bayarannya sangat sedikit. Untung kalau ada  orang yang mau bayar lebih, tapi kebanyakan yang selalu menawar  rendah bahkan sangat rendah."

Daeng Tima, yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang  cuci panggilan,  --yang selama ini setia mendapinginya--,  hanya  terdiam.  Seperti  kebiasaannya, ketika suaminya marah-marah. Ia sangat kasihan melihat suaminya yang setiap hari harus membanting tulang untuk membiayai keluarga mereka.

"Kenapa ki' ka, Daeng?" tanyanya sembari memijat-mijat  kaki Daeng Raba.

"Tadi  ada  orang yang mau naik becak. Masa' dia  hanya  mau bayar 500 rupiah, padahal jaraknya 1 kilometer lebih. Menawar  ko menawar, tapi yang masuk akal tong. Memangnya saya ini binatang." Dihempaskannya puntung rokoknya ke lantai.

"Tapi jammiki' marah-marah."

"Siapa  yang tidak marah, kalau penumpangnya langsung moro-moro.  Ah,  pokoknya bikin jengkel!" Dihisapnya rokok  yang  baru saja digulungnya dalam-dalam. Asap rokok mengepul saat Daeng Raba menghembuskannya perlahan.

"Ya,  memang begitu mi mungkin nasib ta', Daeng. Jadi  sabar mi  ki'  saja, mungkin ini cobaan. Kita tidak boleh  putus  asa," ucap istrinya menenangkan Daeng Raba yang nanpak semakin jengkel.

Dipijatnya punggung suaminya. Ia tidak ingin membuat lelaki tegar itu  semakin marah. Ia harus selalu  menyenangkan lelaki  yang selama ini selalu melindunginya. Meski, ia tiba-tiba saja  ingat, persediaan beras untuk mereka makan, hanya tinggal untuk besok.

"Mana paeng anak-anak?"

"Tidur semua mi."

"Lebba' ngaseng mi nganre?"

"Iye', Lebba' mi."

"Kalau begitu, pergi ma' paeng dulu." Diserubutnya kopi yang tinggal setengah.  Lantas berjalan keluar gubuk yang sudah hampir 3 tahun ditinggalinya.

"Iye', hati-hati ki, Daeng."

Daeng Raba menggayuh becaknya ke tempat biasa ia mangkal. Di pikirannya,  ia harus mendapatkan uang untuk melanjutkan  kehidupannya  besok.  Anak-anaknya perlu sekolah dan  untuk  itu  biaya tidak sedikit.

Matahari  mulai  condong ke barat. Pukul  13.00,  siang  itu panas  matahari semakin menyengat kulit. Daeng Raba  terus  menggayuh  becaknya.  Becak yang baru seminggu lalu di  belinya  dari juragan becak tempatnya bekerja selama ini.

Ia  memang sejak dulu memimpikan ingin memiliki  becak  sendiri.  Lebih  enak, tidak perlu memburu setoran. Dan  hasil  yang didapat  juga  langsung masuk ke kantong sendiri,  katanya  suatu ketika  kepada  istrinya. Belum lagi kalau mendapat omelan dari boss, karena setoran tidak cukup, atau karena becak yang dibawa rusak, meski selama ini Daeng Raba tidak pernah kena marah  bosnya,  sebab  ia memang sangat rajin dan setorannya tidak pernah kurang.

Daeng Raba bahkan juga pernah bercita-cita ingin jadi  juragan becak. Itulah sebabnya ia bekerja keras, dan meminta istrinya untuk menabung uangnya di bank. Daeng Raba boleh dibilang  berpikiran  maju, meski ia hanya jebolan Sekolah Dasar, itu pun  hanya sampai kelas 5. Orang tuanya tak sanggup untuk membiayai.

Siang  itu,  sinar matahari begitu  menyengat  kulit.  Tubuh Daeng  Raba bersimbah keringat, ketika ia telah sampai di  tempat mangkalnya beberapa bulan ini. Ada beberapa becak yang parkir  di tempat  itu.  Beberapa diantara tukang becak duduk  istirahat  di atas becaknya dan beberapa lagi lainnya sibuk bermain domino.

Daeng  Raba  memarkir becaknya dan langsung duduk  di  pojok tempat ia sering istirahat. Beberapa temanya masih asyik  bermain domino.  Mereka tertawa, seperti tak ada beban yang mereka  rasakan.

"Bagaimana rejeki hari ini," tanya Ramli sembari menghenyakkan pantatnya disamping Daeng Raba.

"Ya, biasa-biasalah. Tapi tidak seperti kemarin." Daeng Raba melirik kesamping. Dilihatnya wajah Ramli yang kuyu dengan keringat yang masih meleleh diwajahnya.

"Bagaimana dengan, kamu?"

"Ya, sama. Hari ini sepertinya bukan hari  keberuntunganku," ujar Rambil sambil menyeka keringatnya.

"Beginilah  kehidupan.  Kadang kita  diberi  banyak,  kadang diberi  sedikit. Tapi kan Tuhan Maha Pengasih. Yang penting  kita terus berusaha. Tidak boleh menyerah, apalagi putus asa."

Ramli duduk bersandar. Keringat masih meleleh dari tubuhnya.

"Aku  pernah  membaca buku yang kutemukan  di  jalan,  entah siapa  yang punya," kata Daeng Raba. Ditatapnya Ramli yang  masih nampak kelelahan, "Di situ di ceritakan, ketika ingin  berperang, Napoleon berkata kepada anak buahnya; Tidak mungkin adalah kata-kata yang hanya ada dalam kamus orang-orang bodoh. Kamu tahu  apa makna kata-kata itu. Saya memang tidak tamat SD, tapi saya  sudah mampu  membaca  sejak kelas tiga. Dan saya memang  suka  membaca. Kata-kata  Napoleon tadi, saya tangkap sebagai sebuah  semangat, bahwa  tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,  kecuali  kalau kita  tidak  berusaha. Itulah yang membuat saya  terus  berusaha, pantang  menyerah.  Sebab Tuhan itu, sekali lagi  Maha  Pengasih. Siapa pun diberi, bahkan orang yang banyak berbuat dosa pun, asal ia berusaha."

Daeng  Raba  mengambil bungkusan  tembakau  yang  dibawanya. Digulungnya perlahan. Ramli sesekali memperbaiki tempat duduknya."Aneh memang. Kita bicara seperti ini. Seolah-olah kita  ini jebolan  perguruan tinggi saja. Atau seakan-akan kita ini orang cerdas,  padahal kita ini tukang becak yang tamat SD pun  tidak," ujar Daeng Raba sembil membakar rokoknya.

"Tapi kan kita ini bukan orang bodoh. Kita masih bisa berfikir,  merencanakan sesuatu. Iya kan? Seandainya kita juga  diberi kesempatan  untuk sekolah tinggi-tinggi, paling tidak  kita  akan seperti mereka-mereka yang kini bekerja di kantoran."

"Benar.  Tapi mau bagaimana lagi. Kita kini  menjadi  tukang becak," timpal Ramli.

"Tapi,  kita tidak boleh putus asa. Sebab  perjuangan  butuh ketabahan. Setidaknya kan, kita bisa berfikir bagaimana bisa beli becak dan menjadi juragan becak atau mencari usaha lain." 

"Ah,  sudahlah. Lebih baik kita bekerja kembali.  Dari  pada duduk-duduk  seperti ini." Daeng Raba berdiri meninggalkan Ramli yang masih nampak letih. Ia kembali menggayuh becaknya. Ia memang harus  bekerja keras mencari uang untuk menutupi kebutuhan  hidup keluarganya. 

 

***

Seperti  biasa,  Daeng Raba selalu pulang  larut  malam.  Ia memang  tidak ingin melewatkan terlalu banyak waktu  untuk  beristirahat. Dalam sehari, Daeng Raba menghabiskan waktu minimal  12 jam  untuk  mencari nafkah. Ia baru pulang ke rumah kalau  waktu telah  menunjukkan pukul 24.00 bahkan terkadang ia  pulang  pukul 1.00 dini hari.

Jalan-jalan nampak lengang. Lalulalang kendaraan pun semakin berkurang. Hanya tinggal satu dua orang yang masih nampak berdiri di  pinggir  jalan. Entah apa yang mereka  tunggu. Wanita-wanita malam mulai berkeliaran, seperti laron-laron yang beterbangan dan berkumpul dibawa lampu-lampu mercuri.

Dalam perjalanan pulang, seorang pria tiba-tiba menyetopnya. Saat  itu,  malam semakin larut. Dan cahaya bulan  begitu  terang menyinari permukaan bumi."Berapa sampai di sana, Daeng?" sambil menunjuk ke arah yang dimaksud, sebuah kawasan elite Panakkukang Mas.

"Seribu,  Pak," jawab Daeng Raba sembari memperbaiki  posisi becaknya.

"Lima ratus aja, yah."

"Seribu, Pak."

"Kok mahal sekali. Kan tempatnya tidak terlalu jauh."

"Seribu,  mi Pak. Apalagi sudah tengah malam mi.  Belum pi lagi jaraknya lebih satu kilo."

"Ah, dekat kok. Itu sana, kelihatan dari sini," ucap  lelaki itu sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.

"Tapi,  jauh dudui jaraknya, Pak. Nabilang orang,  dekat  di mata,  tapi jauh di kaki. Jadi, ongkosnya seribu.  Seperti  biasa ji,  Pak!" Daeng Raba mulai kesal, sebab lelaki itu menampakkan wajah yang tidak bersahabat.

"Bagaimana? Lima ratus, setuju. Kan tempatnya kelihatan dari sini."

"Seribu mi, Pak."

"Itu, terlalu mahal. Itu, kelihatan dari sini kan?"

"Iya.  Itu bulan dilihat tonji, Pak," kata Daeng Raba  kesal sambil  berlalu di bawa sinar bulan yang semakin terang. Ia  bersiul  dan  bernyanyi. Tiba-tiba wajah istrinya hadir. Ia memang tidak perlu marah.

 

Makassar, 10 Oktober 1999