Make your own free website on Tripod.com

Di Atas Meja Makan

Cerpen Idwar Anwar

 

Semua rencana itu disusun di atas meja makan. Sepuluh orang lelaki duduk mengelilingi sebuah meja makan yang cukup besar. Di atasnya berjejer piring dengan sendok, garpu dan pisau di samping. Semuanya tertata begitu apik. Menu-menu makanan mewah yang terhidang begitu menggairahkan dan membangkitkan selera makan. Terlebih bagi  para pengemis atau gelandangan yang beberapa hari terpaksa harus menahan lapar.

Di atas meja yang terbuat dari kayu hitam dengan hiasan antik buatan luar negeri itu, terlukis sebuah pemandangan indah. Dua buah vas bunga turut menghiasinya. Semuanya nampak bersih. Tak satu pun lalat yang berani untuk hinggap di atasnya. Berniat pun, mungkin lalat-lalat sampai takut. Mereka hanya mampu mengintip melalui jendela bening dengan air liur yang terus menetes

Sepuluh orang lelaki telah bersiap menyantap makanan yang tersaji di depan mereka. Sepuluh orang lelaki dengan pakaian yang rapi. Dasi menjuntai indah dari leher hingga ke perut mereka yang rata-rata buncit. Wajah mereka berseri. Senyum mereka kadang tersungging, bahkan disertai derai tawa yang tak terkendali. Terbahak-bahak. Mereka terkadang mendehem pejabat.

Sepuluh orang lelaki itu kemudian mengambil celemek yang tersedia di atas meja, lalu meletakkan di atas paha dan juga menyelipkan di kerah baju mereka. Hampir serempak  masing-masing membalik piring, kemudian satu persatu mengambil  nasi dan beberapa hidangan lainnya. Sendok, garpu dan pisau  pun, satu demi satu mulai beraksi.

Semua rencana itu  disusun di atas meja makan. Sepuluh orang lelaki mulai menyantap makanan. Sendok-sendok  yang berisi makanan mulai memasuki mulut-mulut mereka. Gigi-gigi  mereka perlahan mengunyah menyisakan suara gemeletakan. Dentingan piring, sendok, garpu dan pisau yang saling beradu terus berbunyi. Sebuah  orkestra tanpa partitur sedang dimainkan.

Mereka nampak begitu bersemangat melibas santapan yang terhidang. Chicken soup,  steak, salmon steak, sukiyaki, barbeque, sop kikil, pindang bandeng, urap sayuran, souffle terung, rendang kerang, dan makanan mewah lainnya, satu demi satu hilang dari tempatnya.

Di atas meja makan, semua rencana itu disusun. Sepuluh orang lelaki  begitu beringas menyobek-nyobek daging ayam atau sapi dengan gigi-gigi mereka. Keringat mulai menetes dan terkadang jatuh di atas makanan yang mereka santap. Sesekali lendir mengalir dari hidung mereka dan sebelum menetes mereka pun dengan sigap mengisapnya. Baju yang mereka kenakan pun mulai basah.

“Bagaimana dengan rencana kita?” Salah seorang mulai membuka pembicaraan. Lelaki bertubuh pendek dengan perut buncit itu mendesit, saat merobek-robek daging ayam di mulutnya. Suara-suara mendesit juga begitu jelas terdengar bergantian keluar dari mulut yang lain.

Sejenak tak ada yang menjawab. Hanya suara desit, suara gemeletakan, suara dentingan, dan suara sedotan kuah yang terdengar. Mereka masih asyik dengan kenikmatan hidangan yang sangat mengundang selera. Sesekali ada yang mendehem, bahkan terbatuk-batuk.  Semuanya  begitu khusuk menikmatinya.

“Rencana kita ada perubahan, Tom.” Salah seorang menimpali.

“Maksud kamu?” Lelaki buncit yang dipanggil Tom itu sejenak menghentikan sendok yang hampir saja amblas ke dalam mulutnya yang masih terbuka. Matanya semakin melebar. Tatapannya  menohok tajam ke wajah rekan-rekannya.

“Iya…Rencana pertama kita ada sedikit perubahan.”  Lelaki yang persis berada di hadapannya pun menimpali.

“Betul.” Hampir  bersamaan beberapa lelaki yang lain menimbangi, meski di mulut mereka masih penuh dengan makanan.

“Alasannya apa? Tolong jelaskan!” Tom kembali bersuara, setelah sendok yang berisi makanan yang tadi terhenti, telah amblas ke dalam mulutnya. “Kamu, Bram, tolong jelaskan!” lanjutnya sembari menatap ke arah orang yang berada di sampingnya.

Lelaki tinggi kurus itu sedikit tersedak. Beberapa kali ia mendehem, lalu meraih segelas air dan meneguknya.  “Begini.... Kita tak dapat lagi menggunakan strategi yang dipakai di Aceh atau di Timor-Timur. Ada beberapa hal yang perlu kita ubah. Kita harus bergerak seolah-olah peristiwa yang nanti terjadi, tidak jelas motif politiknya.”

Ia kembali menghirup air di gelas yang tinggal setengah. “Dalam membuat peta konflik, kita tak perlu terlalu tergesa-gesa. Masih banyak target daerah yang potensial dalam rencana kita. Bagaimana kawan-kawan.” Pandangannya menghambur ke arah lelaki-lelaki yang masih saja terlena dengan makanan lezat di hadapannya.

“Betul. Betul. Kita memang tidak boleh gegabah. Sebab resiko yang kita tanggung sangat besar,” timpal yang lainnya. Suara dentingan sendok, garpu dan pisau yang beradu dengan piring menyela di antara percakapan mereka.

Sejenak Tom terdiam. “Jadi menurut kalian, cara apa yang seharusnya kita lakukan?”

“Begini…. Dalam teori konflik, kita sudah mengetahui, ada beberapa hal yang sangat potensial menimbulkan konflik di masyarakat, seperti suku atau agama. Dan untuk sementara di negara ini, potensi itu masih besar kemungkinan untuk digarap,”  ujar Herman. Diraihnya segelas air, lalu meneguknya dengan cepat.

“Betul kata Herman,” celetuk Sandi. “Potensi konflik di beberapa daerah masih besar kemungkinan terjadi dengan memanfaatkan realitas tersebut, terlebih lagi di wilayah timur.”

“Jadi menurut kalian apa yang telah kita lakukan di Ambon, di Poso atau di Sampit itu, berhasil?”

“Betul sekali. Sangat berhasil,”  sahut  mereka hampir bersamaan.

“Mengenai pengeboman yang dilakukan selama ini, menurut kalian bagaimana?” Tom berdiri dan menyambar paha ayam di depannya.

“Begini,” diraihnya piring yang berisi salmon steak, Sandi kembali menimpali, ”Upaya itu bisa dikatakan gagal. Manajemen issu yang dilakukan pemerintah cukup baik. Meski demikian imbasnya di masyarakat pada daerah yang memang rawan konflik cukup mengena.”

“Lantas, penajaman konflik para elit politik terutama di antara partai-partai, berjalan sesuai rencana?”

“Sampai saat ini, proses itu terus berjalan, meski memang sulit, tapi kita akan jalan terus secara perlahan dan hati-hati.” Suara sendawa keluar dari mulutnya. Diambilnya  segelas air dan meneguknya. “Namun,” lanjutnya, “Beberapa orang telah kita tempatkan di pos-pos yang cukup strategis untuk terus melakukan gerakan.” 

Tom manggut-manggut. “Bagus. Kalau begitu rencana kita akan semakin berjalan mulus.” Sambil tersenyum, pandangannya menebar dan hinggap di wajah rekan-rekannya yang juga melukiskan guratan senyum.

“Ayo, teruskan! Kita nikmati semua hidangan ini.”

Semua rencana itu disusun di atas meja makan.  Sepuluh orang lelaki itu kembali hanyut dalam kenikmatan masing-masing. Hidangan yang menghiasi meja makan perlahan-lahan amblas ke dalam perut mereka. Chicken soup,  steak, salmon steak, sukiyaki, barbeque, sop kikil, pindang bandeng, urap sayuran, souffle terung, rendang kerang, dan masih banyak lagi menu mewah yang tersedia, perlahan mengalami kepunahan.

Sesekali dari mulut-mulut mereka mengeluarkan suara sendawa yang begitu nyaring. Perut mereka semakin membuncit. Terkadang mereka menarik nafas panjang untuk kembali memberikan ruang  di dalam perut masing-masing.

Di atas meja makan, di mana semua rencana itu disusun, piring-piring  dan semua hidangan yang tertata apik, mulai berantakan. Tulang-tulang  ikan berserakan di mana-mana.  Suara-suara desit, gemeletakan gigi yang beradu dengan tulang ayam atau sapi,  dan sedotan kepala ikan serta sumsum tulang ayam atau sapi masih terdengar nyaring. Orkestra tanpa partitur terus dimainkan.

Mereka semakin asyik dengan kenikmatan yang terhampar di atas meja. Dan mata mereka terus menatap jalang pada setiap hidangan. Dengan gesit mereka terus menambah makanan di atas piring  masing-masing yang masih berisi. Dan gigi-gigi mereka terus bekerja. Suara gemeletak terus terdengar.  Kadang kala di antara mereka ada yang mendehem, bahkan terbatuk-batuk. Terkadang pula suara batuk tersebut menggelegar karena dahak yang mengental, lalu mereka menelannya. Suara  sendawa pun menyelinap di antara suara-suara itu.

“Lantas, bagaimana dengan target politik kita.”  Tom kembali bersuara.

“Sesuai rencana, kita akan perlahan-lahan bergerak dan mengambil-alih kekuasaan,”  ungkap Joni nampak serius, sembari mengambil tissu dan mengusap kumis lebatnya yang terkena kuah sayur dan dihinggapi beberapa butir nasi.

“Bagus. Jadi kita dapat berjalan dengan mulus.” Wajah Tom nampak berseri. Ia tersenyum menyeringai. Dan semua lelaki yang ada di meja makan itu pun tertawa terbahak-bahak. Tanpa mereka sadari beberapa butir nasi yang tersisa di mulut mereka, menyembur ke luar. 

“Tapi ingat kawan-kawan, kita harus tetap berhati-hati. Jangan sampai rencana kita ini tercium. Sedikit pun tak boleh. Kita harus menjaganya baik-baik. Ingat sekali lagi resikonya sangat besar. Itu juga  harapan para  financial support  kita di luar negeri. Semua rencana harus tersusun dengan baik dan rapi,”  Tom mengingatkan.

“Itu pasti, kita memang harus bekerja secara profesional. Tak boleh ada yang luput dari pemantauan kita. Semuanya  harus terekam, sehingga kita dapat menentukan langkah-langkah selanjutnya,”  balas Beni.

“Betul. Betul,” ucap mereka serentak. Dan suara tertawa terbahak-bahak kembali menggema dalam ruangan yang dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan mahal.   Di sudut-sudut ruangan dan di dalam lemari-lemari hiasan, terpajang indah keramik-keramik kuno dan hiasan-hiasan buatan luar negeri.

“Ayo teruskan! Nikmati hidangan ini sepuasnya. Semua  demi kesuksesan kita.” Tom kembali mempersilahkan.

Semua rencana itu disusun di atas meja makan. Sepuluh orang lelaki itu pun kembali khusuk dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka rasakan. Pembantaian   kembali terjadi. Dan orkestra tanpa partitur terus mengalun. 

Di dalam ruang yang mewah itu dan di antara para lelaki yang nampak beringas menghabiskan hidangan yang tersedia di atas meja, seorang perempuan tua berdiri di sudut ruangan. Ia hanya mematung menyaksikan para lelaki itu makan. 

Ditariknya  nafas panjang. Tugasnya hampir berakhir. Tinggal menyiapkan pencuci mulut. Puding, tiramisu, green apple, cocktail dan pisang telah tersedia di sampingnya. Ia hanya menunggu sepuluh orang lelaki itu menyelesaikan santapannya, lalu dengan bergegas ia akan membawa semuanya dan meletakkannya di atas meja. Selesai.

Wanita tua itu, masih berdiri mematung menunggu perintah. Ia tak perduli apa yang mereka bicarakan. Sesekali pandangannya menghambur ke atas meja yang kini berantakan. Dilihatnya  lelaki pendek dengan perut yang semakin buncit itu terus saja menghisap kepala ikan yang berada di piringnya. Beberapa lelaki lain pun melakukan hal yang sama. Hingga beberapa kepala ikan telah menjadi korban. Semuanya hancur dengan otak dan mata telah hilang. 

Beberapa di antaranya kemudian mengambil tulang ayam dan menggigitnya dengan keras. Suara gemeletak terdengar nyaring. Dan setelah itu, suara sedotan pun terdengar, mirip suara pengeboran minyak atau suara alat penyedot air di pertambangan-pertambangan.

“Kepala ikan dan sumsum tulang ayam ini begitu nikmat,” terdengar Bram, menggumam dengan mulut tersumpal tulang ayam yang sementara disedotnya. Suara desit terdengar nyaring.

“Benar. Semuanya begitu nikmat,”  celetuk yang lain.

Setelah semuanya habis, mereka pun mengambil tulang sapi yang telah habis isi dan kuahnya. Diambilnya sendok, lalu perlahan dimasukkannya ke dalam lubang tulang tersebut dan mencungkil sumsumnya ke luar. Mereka benar-benar sangat profesional melakukannya. Dengan begitu lahap semuanya amblas ke dalam perut mereka.

“Okhh…” Suara sendawa hampir bersamaan keluar dari mulut mereka.

Satu demi satu celemek yang melapisi paha dan yang terselip di kerah baju mereka dilepaskan. Melihat para lelaki itu telah selesai, perempuan tua yang sedari tadi hanya berdiri mengawasi mereka, bergegas melangkah membawa Puding, tiramisu, green apple, cocktail  dan pisang yang sedari tadi disiapkannya.

“Akhh….Ada pencuci mulutnya. Ini di luar negeri disebut dessert. Ayo silahkan dihabiskan,” Tom kembali mempersilahkan kawan-kawannya untuk menyantap makanan pencuci mulut yang baru saja tersedia. Sambil mengusap-usap perut, mereka mengambil puding, tiramisu, green apple dan cocktail yang telah tersedia di atas meja dan kembali melahapnya hingga habis.

“Ingat! Okrrrrhh…. Rencana kita tak boleh gagal dan harus berjalan mulus. Lakukan kembali seperti di Ambon, di Poso  atau di Sampit. Apalagi jika kondisi negara sedang kacau, kita bisa kembali  berjaya. Saya kira kawan-kawan yang menangani persoalan itu bisa bekerja dengan baik,” ujar Tom sebelum mereka meninggalkan meja makan.

Hampir bersamaan, sepuluh orang lelaki itu beranjak meninggalkan meja makan yang kini lebih mirip ladang pembantaian. Tulang-tulang ikan, tulang-tulang ayam yang sudah remuk dan tulang-tulang sapi berhamburan.  Taplak meja merah dengan hiasan kembang-kembang  itu pun terlihat seperti darah yang mengalir. Kulit-kulit pisang dan tissu tak ketinggalan menghiasi keberingasan yang terjadi di atas meja makan, di mana semua  rencana itu disusun. Sepuluh orang lelaki itu, kini tak ada lagi di meja makan. Hanya bekas-bekas pembantai mereka yang tersisa. 

 

   Makassar,  1 Muharram 1422 H