Make your own free website on Tripod.com

Di Atas Hamparan Sajadah

Cerpen Idwar Anwar

 

Sejak beberapa hari ini aku selalu gelisah. Bram.... Ah, nama itu selalu saja menjadi bahan gunjingan di antara teman-teman serta senior-seniorku di Sastra Arab jika berbicara denganku. Dan semuanya cerita yang masuk kedalam telingaku, tak satu pun yang menyatakan dia baik. Semuanya jelek. Ya, suka pacaranlah. Suka mempermainkan wanitalah. Kurang ajarlah. Dan seabrek kejelekan yang lainnya. Ada apa sebenarnya dengan pria itu. Benarkah dia seperti itu? Ah… pusing. Ada urusan apa mereka menceritakan kejelekan Bram kepadaku?

Beberapa hari ini, Bram memang selalu mendekatiku. Bahkan suatu saat, ia dengan terang-terangan menyatakan cintanya. Tapi, waktu itu aku hanya diam. Aku memang tak pernah tertarik untuk berhubungan lebih dekat dengan seorang pria, seperti teman-teman wanitaku yang lain. Tapi, apakah karena itu mereka menceritakan segala kejelekan Bram. Mereka takut kalau aku jadi korban berikutnya? Atau karena ada seseorang yang mereka perjuangkan untuk mendekati aku? Hari. Adi. Iwan. Ya, sepertinya di antara nama-nama itu ada yang mereka inginkan untuk menjadi pacarku. Bahkan ketiga nama itu pun turut menambah rekor kejelekan Bram di hadapanku.

Ah, pusing. Sesekali aku balikkan badan, tapi untuk segera larut dalam mimpi sepertinya masih begitu sulit. Aku lalu bangkit dari pembaringan, melangkah menuju jendela dan melongokkan kepala menatap ke langit. Di luar kegelapan semakin menggelayut. Langit begitu pekat. Angin dingin teramat lembut menyaput permukaan wajahku. Bayangan Bram seketika melintas.

 

***

 

“Eh, anak manis ada yang cari tuh,” teriak Eri yang tiba-tiba saja muncul dari belakang, saat aku baru memasuki ruang kuliah.

“Siapa?”

“Ya, biasalah, Bram. Hati-hati, ya dia itu buaya. Tahu kan buaya?” Eri lalu membuka mulutnya lebar-lebar.

Seketika kuarahkan pandangan ke koridor yang tak jauh dari ruang kuliahku. Kulihat Bram sedang berdiri sambil menatap ke arahku. Dan tak begitu lama, ia pun melangkah menuju ke arahku. Entah, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang lain. Jantungku seketika berdebar semakin cepat. Perasaan kikuk dengan cepat merambati sekucur tubuhku. Terlebih ketika ia semakin mendekat. Kualihkan pandanganku, mengamati lantai koridor yang buram.

            “Fit, bisa kita bicara sebentar?” pintanya saat ia berdiri tepat di hadapanku.

Sejenak aku terdiam. Mulutku terasa begitu berat untuk kubuka. Kepalaku semakin tertunduk. Pandanganku menatap liar menjelajahi permukaan lantai.

“Fit….”

“Emmm…uuuntuk apa,” jawabku sekenanya, sebelum ia kembali mengulangi ajakannya.

“Aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Masalah apa?”

“Mungkin tak baik kalau kita bicara di sini.”

“Tapi, aku ada kuliah Kritik Sastra sekarang.”

“Biar aku tunggu.”

“Bbbaiklah,” ucapku seraya berjalan masuk ke ruang kuliah.

Usai perkuliahan, di luar Bram sudah menunggu. Dengan perasaan sedikit berat aku memberanikan diri melangkah ke arahnya. Selama ini, aku memang tak pernah dekat dengan seorang pria, apalagi pergi berdua. Inilah mungkin yang membuat aku selalu kikuk jika berhadapan dengan mahluk yang satu ini.

“Sudah kuliahnya?” tanyanya saat aku berada di depannya.

“Iya,”

“Kita bisa bicara sekarang? Tapi sepertinya di sini tidak cocok. Bagaimana kalau kita ke kantin di dekat Fakultas Teknik?” 

Aku hanya diam sembari mengangguk. Setelah berjalan cukup jauh, kami pun telah sampai dan langsung memesan makanan dan jus, lalu mencari tempat yang agak jauh dari pengunjung lainnya.

“Ayo, silakan duduk.”

Kupilih tempat duduk tepat di hadapannya. Tak berapa lama pesanan kami pun datang.

“Ayo silahkan dimakan.”

“Iya, terima kasih.”

Sejenak kami pun larut dengan makanan dan jus yang terhidang di atas meja. Sesekali tatapanku hinggap di wajahnya, lalu kembali tertunduk menatap hidangan yang masih tersisa. Mungkin ia tak tahu kalau aku sedang menatapnya. Namun yang pasti, aku semakin gelisah.

“Sebenarnya, kamu ingin bicara apa?” tanyaku memberanikan diri.

Mendengar pertanyaanku, ia seketika mengangkat wajahnya dan meletakkan gelas yang isinya tinggal setengah. Ia lantas menatapku. Cukup lama.

“Bagaimana, ya, aku harus memulai dari mana. Aku sendiri tiba-tiba bingung.”

“Memang mau bicara apa?”

“Emmm. Begini…. Terus terang saja selama ini, ya terhitung sejak aku selalu menemuimu, sepertinya semakin banyak beredar cerita-cerita miring tentang aku.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Ya, dari beberapa teman yang mungkin merasa iba mendengar kalau aku selalu digosipi yang macam-macam di depanmu. Untuk itu, aku ingin sekali bertemu dan berbicara dengan kamu untuk menjelaskan semuanya.”

“Untuk apa?”

“Fitri, seperti yang pernah kuutarakan padamu, aku sangat menyukaimu. Aku tak ingin sesuatu tentang diriku kau ketahui dari orang lain. Aku ingin kau mengetahui segalanya tentang diriku dari mulutku sendiri. Apa yang telah kau dengar tentang aku semunya masih kurang.”

Sejenak ia terdiam. Entah, apa yang sedang dipikirkannya.

“Maksudmu?”

“Fit, sebenarnya aku bahkan lebih jelek dari apa yang mereka ceritakan. Ya, aku lebih rusak, lebih bobrok dari apa yang pernah kau dengar. Hampir segala apa yang dimurkai oleh Allah telah aku lakukan. Aku hamba Allah yang begitu kotor. Bahkan aku mungkin tak dapat lagi dianggap sebagai hamba Allah dan umat Nabi Muhammad.”

Aku tercengang. Bulu romaku seperti menegang. Aku tak menyangka Bram akan berbicara demikian. Ia terus menceritakan segala perbuatan tercela yang pernah ia kerjakan. Perbuatan yang selama ini hanya kusaksikan dari film-film yang ditayangkan di TV atau dalam peristiwa yang terjadi di koran-koran. Benarkan pria di hadapanku ini begitu kotornya? Ya, Allah apakah aku dapat menerima cinta laki-laki yang masa lalunya begitu gelap ini? Hanya engkau yang mengetahui segalanya.

Dalam diam, kuberanikan diri menatap wajahnya. Di matanya, kulihat ada kejujuran tersimpan di beningnya yang sejuk. Tapi untuk apa ia menceritakan semuanya. Bukankah biasanya, jika seseorang ingin menarik simpati orang lain malah menceritakan segala kebaikan dan kelebihannya. Tapi mengapa Bram malah berbuat sebaliknya; mengungkapkan segala kebejatan masa lalunya. Tak ada sedikitpun kebaikan dirinya yang ia ceritakan. Benarkan ia mencintaiku? Aku semakin berani menatapnya. Entah, keberanian itu muncul dari mana.

“Fitri, apa yang aku ceritakan ini adalah kebenaran. Itulah aku. Seorang anak manusia yang begitu kotor yang mencoba mencari secercah cinta yang suci dari seorang gadis baik-baik sepertimu. Aku begitu mencintaimu. Aku ingin semua tentang diriku kau ketahui. Setelah itu, terserah. Kau ingin menerimaku atau menolak, itu hakmu. Yang pasti cintaku untukmu begitu tulus. Aku ingin membangun kehidupan yang baru bersamamu.”

Aku tak dapat berkata apa. Kebisuan merayap. Diam. Hanya itu yang sanggup kulakukan. Rasa bimbang, bingung dan berbagai perasaan lainnya bercampur baur dalam relung-relung kesadaranku. Aku benar-benar tak menyangka Bram akan berbicara seperti itu. Apa yang kudengar dari teman-teman tentang dirinya ternyata masih kurang dibanding apa yang ia ceritakan.

“Fit, terus terang, hanya kau yang aku ceritakan tentang siapa aku sesungguhnya. Aku tak tahu mengapa. Yang pasti aku ingin jujur kepadamu, terlebih lagi kepada diriku sendiri.”

Aku semakin bisu. Jiwaku berkecamuk. Sebenarnya aku juga merasakan ada sesuatu yang aneh jika menatapnya. Mungkinkah itu yang dinamakan cinta. Ah, selama ini aku memang tak pernah merasakannya. Aku begitu tertutup dengan hal-hal seperti itu. Cinta…? Mahluk macam apakah itu? Diakah yang selama ini menggangu tidurku?  Tapi aku takut. Aku takut disakiti, terlebih jika harus menerima Bram menjadi bagian dari hidupku. Aku takut apa yang diceritakan teman-teman bahkan Bram sendiri terulang kepadaku. Aku benar-benar takut.

“Fit, kenapa diam?” sapanya membuyarkan lamunanku. Sejenak aku tergeragap.

“Ah, tiiidak. Tidak kok. Aku hanya….”

“Hanya apa? Kau semakin benci kepadaku? Itu hakmu. Yang pasti aku telah berkata jujur kepadamu dan yang terpenting aku telah berani berkata jujur kepada diriku sendiri. Aku yakin setiap manusia tidak ada yang sempurna. Dan aku yakin dalam hati setiap manusia juga ada kebaikan. Ya, aku yakin itu. Dan aku harus mencarinya dalam diriku sendiri.”

Diam. Aku merasakan debaran jantungku semakin cepat. Mataku mulai panas. Ada sesuatu yang seakan mendesak untuk keluar. Tapi dengan cepat tarik nafas panjang agar semuanya kembali normal. Dan berhasil. Aku kembali tenang. 

“Fitri, kau masih mendengarkan aku?”

“Iiiya. Aku dengar.”

Lalu kami pun terdiam. Kuintip jam di tangaku yang kini menunjukkan pukul 13.00. “Do, maaf ya, aku ada kuliah sekarang.”

“Fit, kamu marah padaku? Kamu membenciku?”

“Tidak. Aku hargai kejujuranmu kalau itu benar-benar sebuah kejujuran. Seperti katamu, setiap manusia tidak ada yang sempurna. Setiap manusia dalam dirinya pasti ada sisi yang baik. Aku sepakat itu.”

“Apakah itu berarti kamu menerima aku?”

“Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Pikirkanlah kembali baik-baik, apakah kamu benar-benar mencintaiku. Dan yang terpenting kamu harus membedakan antara nafsu dengan cinta,” ucapku sembari berdiri dan perlahan meninggalkannya.

Diam. Tak sepatah kata pun yang ia ucapkan saat aku berlalu meninggalkannya. Berhasil. Aku berhasil mempertahankan diriku dan tak larut dalam kata-katanya, meski aku merasakan ada kejujuran yang mengalir dari setiap kalimat yang diucapkannya. Namun aku belum begitu yakin. Bayangan cerita teman-teman tentang Bram masih kerap melintas dibenakku. Tapi aku harus jujur, aku juga merasakan ada sesuatu yang aneh yang menjalari jiwaku.    

 

***

 

Hari-hari berlalu. Kebingungan semakin memenjarakan. Bukan hanya Bram, tapi juga Hari, Adi, Iwan, semakin gencar mendekatiku. Dan cerita-cerita tentang kejelekan Bram semakin gencar pula menusuki gendang telingaku. Entah mengapa hanya dia yang selalu menjadi sasaran cemoohan, padahal bukan cuma dia yang mendekatiku. Namun, entah mengapa aku semakin memikirkannya. Bayangan Bram semakin kerap mengisi kesendirianku.

Hari-hariku beku. Hanya Muli, temanku yang sejak di pesantren ini, yang selalu menghibur dan memberikan masukan yang berarti. “Fit, sebaiknya kamu mengikuti kata hatimu. Aku tahu kau lebih mencintai Bram. Pikirkanlah baik-baik. Dan yang terpenting sebaiknya kamu shalat istikharah, serahkanlah semuanya kepada Allah. Hanya  Dialah yang mengetahui yang terbaik untuk umatnya,” ucapnya suatu ketika.

Dan suatu hari, di antara kebisuan malam, aku tafakkur di atas hamparan sajadah  menundukkan hati, memohon petunjuk. Keheningan menyelimuti. “Ya, Allah berikanlah petunjukMu. Bimbinglah hatiku untuk memilih sesuatu yang saat ini membuatku bimbang. Ya, Allah hanya Engkaulah yang mengetahui segalanya. Hanya Engkaulah yang mengetahui mana yang terbaik untuk hambaMu ini.” Di tepian malam yang dingin dan pekat, ada kesejukan yang tersisa.

Setiap hari, bila malam semakin merambat ke tepi, aku selalu tafakkur memohon petunjuk Allah. Dan sejak saat itu pula, bayangan Bram semakin melekat dalam memoriku. Entah, apakah ini merupakan petunjuk Allah yang selama ini kunantikan. Yang pasti, hari-hariku semakin cerah dan aku merasa ada kebahagiaan yang menyelimuti. 

“Fitri! Mau kemana?” Suara itu tiba-tiba membuatku tersentak. Sejenak aku tergeragap tatkala mendapati Bram yang tiba-tiba saja berada di sampingku.

“Ke perpustakaan. Kenapa?”

“Aku ingin bicara. Bolehkan?”

“Boleh.”

“Kita ke tempat yang dulu?” Aku hanya mengangguk lalu berjalan mengikuti langkah Bram yang lebih dahulu berjalan. Di kantin yang mulai terlihat ramai, kami mengambil tempat tepat di sudut ruangan. Setelah mencicipi makanan dan minuman yang kami pesan, tiba-tiba keheningan menerkamku. Kulihat Bram juga mengalami hal yang sama. Cukup lama itu terjadi, hingga….

“Fit, jawablah dengan jujur. Apakah kau juga mencintaiku?” suara Bram seketika membuyarkan kebisuan di antara kami.

Aku tersentak. Ya Allah jawaban apa yang pantas kuberikan. Apakah ini pertanda Engkau telah mengutusku untuk menyadarkannya. Bila benar ini kehendakmu, berilah aku kekuatan untuk melakukan semuanya. Aku ingin ia menyadari semua perbuatannya dan menjadi manusia yang benar-benar bertakwa. Diam. Kedua bibirku begitu sulit untuk bergerak. Kaku. Namun, tanpa begitu kusadari sebuah kekuatan menyentakku untuk berkata…. “Ya. Aku menerimamu.”

            “Benarkah? Kalau begitu aku akan segera menemuai orang tuaku untuk melamarmu.”

Ya, Allah apakah ini karuniamu. Ataukah inilah awal dari perjuanganku. Kuatkanlah aku untuk menerima keputusanku. Di sudut mataku, ada bening yang mengalir. Hangat. Begitu berarti.

 

Makassar, 22 November 2002