Make your own free website on Tripod.com

Aku Cemburu, Kamu Berselingkuh Aku Tidak

Oleh Idwar Anwar

 

Cundekke  tiba-tiba  memeluk  istrinya.  Dia  begitu  sengit menciumi wajah wanita yang dinikahinya dua tahun lalu itu. Jemarinya  begitu liar melenggang kesana-kemari dan menari  menelusuri lekuk tubuh istrinya yang tiba-tiba terperangah.

Nafasnya  memburu. Cundekke seperti baru saja dikejar  setan yang mungkin  tiba-tiba saja mencegatnya di tengah  jalan,  saat memasuki pekarangan rumahnya. Ia seperti dipacu waktu.  Tubuhnya perlahan  dibanjiri  keringat  meski angin  malam  begitu dingin menusuk tulang.

Wajah wanita itu masih nampak kebingunangan. Ditatapnya raut muka  suaminya yang bersemu merah seperti kepiting  yang  terkena air panas. Namun, ia tetap pasrah dan dingin. Ia membiarkan bibir dan tangan lelaki itu menciumi dan merayapi bagian-bagian tubuhnya yang peka. 

Ia  sesekali menggeliat. Tubuhnya yang semampai  belingsatan diantara  deru  nafas Cundekke yang tak karuan. Dan  itu  semakin menambah  keberingasan lelaki yang kini berada di  atas  tubuhnya sambil  melahap  kerinduannya. Bantal dan  selimut   yang semula menutupi tubuh wanita itu, terus bergeser dan sebagian tergeletak di lantai.

Udara  dingin  yang mengigit  tulang  perlahan  dirasakannya semakin menyengat. Ditariknya selimut untuk  menutupi  tubuhnya yang masih dijejali sengatan-sengatan lembut bibir suaminya.

"Lola,  aku  begitu rindu." Ditariknya tubuh wanita  itu  ke dalam dekapannya.

"Aku  tak ingin kau meninggalkanku. Aku tak ingin kau  pergi dengan lelaki lain." Bibirnya semakin gesit berkeliaran  diantara perbukitan  yang  sedang ranum. Ia terus menelusuri  jalan-jalan yang  menyisakan desahan nafas kepasrahan. Kedua Tubuh itu masih saja bergerak tak karun.

Lola,  sesekali  memejamkan matanya dan  meniknati  sentuhan lembut suaminya. Ia seakan ditarik ke dalam dunia yang dua  tahun lalu  selalu dirasakannya sebagai sebuah keindahan  dunia.  Meski setelah itu, ia pun harus pasrah dengan keadaan yang menggiringnya larut pada sebuah ketakberdayaan suaminya.

Namun malam ini, tiba-tiba ia merasakan peristiwa dua  tahun yang lalu, ketika keperkasaan itu masih ada. Sesuatu yang  memang sangat  diharapkannya. Meski keheranannya terus  saja  dipaksakan untuk hadir. Dan tanda tanya besar mengepung pikirannya.

Entahlah, tiba-tiba ia merasakan suaminya begitu buas seperti  ingin mencabik-cabik tubuhnya. Namun, ia tetap pasrah  dengan apa  yang diperbuat lelaki yang begitu di cintainya itu.  Ia  tak ingin  mengecewakan  lelaki  yang  sepertinya  ingin  mendapatkan kembali  sesuatu yang pernah ia miliki dan dibanggakannya  ketika berdua dengannya.

Nafas  Cundekke  semakin memburu. Ia semakin  buas  memangsa setiap  jengkal tubuh istrinya yang sesekali  merintih.  Tubuhnya semakin  dibanjiri keringat. Dan wanita itu pun mulai  bergairah. Meski  keheranannya masih saja belum terjawab. Mengapa  tiba-tiba Cundekke begitu bersemangat untuk mengajaknya pergi ke dunia lain bersamanya.  Sesuatu yang lebih setahun ini tak pernah  dilakukan lelaki itu.

Ia pun perlahan mendekap tubuh Cundekke yang semakin menampakkan kepolosan, mirip anak-anak yang sedang  asyik  mandi  di sungai.  Namun,  belum sempat Lola melakukan  perlawanan,  tubuh Cundekke  pun  terkulai. Tubuhnya tiba-tiba  limbung  di samping  istrinya.  Wanita itu terlihat pasrah, namun ada kekecawaan  yang membias di wajahnya.

Ia  seakan  merasakan sebuah ketersiksaan  batin  yang  luar biasa.  Meski  ia memang harus  menyadari  keberadaan  suaminya. Sesuatu  yang memang sangat mengganggu hubungannya sebagai  suami istri, terlebih mereka merupakan pasangan muda.

Angannya  tiba-tiba menerawang di langit Desember  dua  tahun lalu.  Ketika  ia baru saja berpacu bersama  suaminya  ke  puncak kebahagiaan yang memang baru pertama kali dirasakannya. Ia begitu puas.  Cundekke saat itu begitu perkasa. Lelaki itu telah mengajaknya  mengembara meski akhirnya ia pun terkulai. Namun,  wanita itu menikmati perjalanan tersebut. Ia begitu bahagia.

Ya, langit Desember memang tetap terulang, tapi tak  seperti dulu  lagi. Lelaki itu tak pernah lagi mengajaknya mengembara  ke puncak-puncak  gunung  yang  saat itu hanya mereka  berdua  yang merasakan keindahannya.

Dunia  dirasakannya  seperti berubah.  Ia  seperti  digiring masuk  kedalam  ruang, yang disana tak ada lagi  sedikit  harapan untuk  sebuah  pengembaraan yang mengasyikkan. Ia memang  harus pasrah  setelah segala macam usaha yang mereka lakukan tak membuahkan hasil untuk keluar dari ruang sumpek yang telah memenjarakan mereka setahun lebih.

Pada  akhirnya  mereka pasrah. Meski usaha  itu  tak  pernah berhenti mereka lakukan. Namun malam ini, Lola benar-benar  merasakan ada sesuatu yang lain yang bergejolak dalam diri  suaminya. Ada  sebuah  keinginan yang begitu besar yang ingin ia lakukan namun, kemampuannya berada pada titik terendah dari sebuah  pemenuhan kepuasan. Cundekke memang tak sanggup melakukannya.

Ia menatap perlahan lelaki yang kini terkulai  disampingnya. Ada  perasaan bersalah yang menyengat batinnya.  Duri-duri  tajam tiba-tiba  menghujam jantungnya. Ia mengatur nafasnya  perlahan, meski iramanya masih saja tersendat dan terasa berat.

Rasa bersalahnya seketika semakin memuncak. Ia memeluk tubuh lelaki  itu  dengan damai. Dekapannya begitu  mesra  memenjarakan tubuh Cundekke yang sebagian tak berbusana. Ia melabuhkan  segala desahan lelaki itu dalam debaran jantungnya.

Ada kepiluan yang seketika menyelubungi perasaannya.  Sebuah penghianatan telah dilakukannya. Ya, ia telah menghianati  lelaki yang selama ini begitu setia menemani dan membimbingnya ke dunia yang  lain. Sebuah dunia yang tak pernah dilihat dan ia rasakan sebelumnya.

"Lola,  aku  kalah dan tak sanggup. Aku tidak  seperti  dulu lagi. Dan aku tahu, selama ini kamu begitu menderita."

"Kau  pasti  sanggup. Kita tetap harus berusaha  dan  jangan putus  asa." Dibelainya rambut suaminya dengan  lembut.  Perlahan diciumnya kening lelaki yang seperti pasrah dengan keadaanya.

Cundekke  perlahan meraih tangan istrinya, "Kamu  ingin  meninggalkanku?" Matanya sayu menatap wajah wanita disampingnya.

"Aku  takkan meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu."  Tiba-tiba  hatinya  begitu perih. Ia telah membohongi  laki-laki  itu. Disekanya air mata yang perlahan membasahi pipinya. Ia tak  ingin Cundekke  mengetahui kalau ia menangis. Ia tak ingin  lelaki  itu tahu kalau beberapa malam yang lalu ia pergi bersama Bora  menyusuri  padang luas dan mendaki puncak-puncak bukit,  seperti  yang pernah  mereka  lakukan. Ia tak ingin kalau Cundekke  mengetahui kalau ia telah menghianatinya.

"Ah...." Tubuhnya menggeliat perlahan. Diraihnya bantal yang sedari  tadi berada di bawah kakinya. Ia tak  ingin  membenturkan pandangannnya  di  mata suaminya. Perasaan bersalah  begitu  kuat menekan batinnya. Ia tak sanggup menyaksikan penderitaan suaminya yang telah lama menyiksa batih lelaki itu.

"Lola,  kamu benar-benar tidak akan meningalkan aku?"  Didekapnya tubuh wanita itu dari belakang.

Lola hanya mengangguk. Ia tak ingin menjawab sebab  suaranya begitu berat. Tangisnya tertahan di bantal yang menutupi  wajahnya.

Tiba-tiba  ia  membalikkan  tubuhnya  dan  memeluk  Cundekke begitu erat. Ia menciumi lelaki itu dengan liar. Nafasnya seketika  memburu.  Ia ingin memaksa lelaki itu untuk kembali  seperti dulu.  Dan mereka pun kembali bergulat dengan nafas  yang  saling memburu.

Malam  semakin  larut dan rintihan  demi  rintihan  mengalun dengan  indahnya. Malam itu telah menjadi sebuah lakon  pencarian sebuah  keperkasaan masa lalu yang hilang. Mereka  saling  meraih dan  menjalin  kemesraan dengan syahdu. Angin malam yang dingin semakin  menderu, seakan ingin menyaingi desah nafas mereka  yang saling memburu.

Namun,  Cundekke  tiba-tiba lemas dan terkulai.  Ia  kembali terhempas di samping istrinya yang masih gesit berkeliaran bersama gejolak yang tak tertahankan. Lola tak ingin suaminya berhenti sebelum  menuntaskan segalanya. Ia ingin suaminya kembali membawanya ke alam lain seperti setahun lebih yang lalu.

Tapi,  akhirnya ia memang harus sadar usahanya yang  mungkin sudah  ratusan  kalinya, kembali harus menemui  jalan  buntu.  Ia memang harus pasrah dan akan kembali mengulanginya di lain kesempatan.

"Lola,  aku  benar-benar  tak sanggup. Aku  malu  tak  dapat membawamu  ke alam yang dulu selalu kita kunjungi."  Ia  mengatur nafasnya yang masih berlari cepat.

Lola  hanya  terdiam. Wanita itu nampak  begitu  kecewa.  Ia seperti  kehilangan  sesuatu yang sedikit lagi  diraihnya.  Suatu pemberian yang begitu didambakan dari suaminya. Dan ia pun sadar, usahanya kembali sia-sia.

Cundekke  meraih  tangan istrinya. Ia tahu  istrinya  begitu kecewa. "Lola aku tak sanggup. Maafkan aku. Aku tahu Bora  memang lebih perkasa, sedang aku tidak. Aku juga tahu kamu sangat membutuhkan  sesuatu yang pernah aku berikan yang sejak setahun  lebih tak sanggup lagi kupenuhi."

Lola begitu kaget. Ia tak menyangka suaminya akan mengetahui perbuatannya bersama Bora. Padahal mereka baru  sekali  melakukannya.  Dan  setelah itu ia sadar akan perbuatan  tercela  yang telah dilakukannya. Ia memang telah melakukan penghianatan kepada suaminya.  Dan keheranannya semakin mengganas, sebab  lelaki  itu masih  saja mesra kepadanya. Cundekke seperti tak menaruh  dendam kepadanya maupun kepada Bora.

Ia  pun  menghambur  ke dalam  pelukan  Cundekke.  Tangisnya pecah.  "Maafkan aku. Aku telah menghianatimu. Aku  memang  telah kehilangan  kontrol. Tapi, aku begitu mencintaimu. Aku tak  ingin kehilanganmu."  Perasaan  bersalah semakin membesar dan membaur dalam penyesalannya. Ia semakin tak sanggup menatap suaminya.  Ia begitu malu.

 

"Aku  tahu. Ya..., dan aku memahamimu. Aku  mengerti,  semua itu  karena  kesalahanku yang tak mampu  memenuhi  tanggung-jawab sebagai seorang suami." Ditatapnya wanita yang masih larut dengan tangis dan penyesalannya.

"Namun  aku cemburu, kamu berselingkuh sedang  aku  tidak." Cundekke membalikkan tubuhnya. Tatapannya menghujam langit-langit kamar yang dirasakannya tiba-tiba begitu sumpek dan seolah memenjarakan  dirinya  dan ketidakmampuannya.  Ia  benar-benar merasa tidak  berharga di depan istrinya. Ia ingin kembali seperti  dulu dan  memenuhi  sesuatu yang sangat dirindukan  istrinya.  Sesuatu yang memang merupakan salah satu kewajibannya sebagai suami. Ya, sesuatu yang telah lama memang tak mampu diberikannnya.

Tiba-tiba  ia  bangkit dan menindih  istrinya.  Ia  menciumi wajah wanita itu. "Lola, aku ingin memperkosamu!

Wanita itu terperanjat. "Perkosalah aku!"

 

 

 

Makassar, 17 November 1999