Make your own free website on Tripod.com

Perkawinan Bunga-bunga


Cerpen Idwar Anwar

 

 

 Sudah berkali-kali short message service yang dikirim oleh istriku masuk ke hp-ku.

“Sepertinya kita harus memikirkan kembali hubungan kita.”

Seolah tak ada lagi kata-kata yang tepat untuk mewakilkan perasaannya yang kutangkap sangat gundah dan bahkan mungkin sangat ingin segera mengakhiri hubungan kami.

Hampir enam tahun lamanya kami menjalin hubungan dalam ikatan perkawinan, yang menurut aku meski kadang terjadi pertengkaran, tapi pada umumnya baik-baik saja. Dan dalam waktu itu pula kami berhasil memperoleh karunia Tuhan untuk memelihara 2 orang anak yang lucu-lucu. Bahkan menurut tetangga-tetangga kami, anak-anak kami itu sangat lucu dan cerdas. Keduanya memang sangat lincah, cukup baik dalam berbicara dan cepat menangkap maksud orang yang berkomunikasi dengannya. Padahal waktu itu, anak-anak yang seumur dengan mereka, masih belum jelas dalam bekomunikasi dan berinteraksi.

Enam tahun menurutku merupakan waktu yang cukup lama untuk saling memahami dan mengisi. Terlebih lagi kami sebelumnya telah menjalin hubungan pacaran selama hampir enam tahun pula.

Maka kubalas smsnya:

“Apakah hubungan kita selama hampir enam tahun harus kita hancurkan begitu saja hanya karena ego yang kita pertahankan masing-masing?”

Tapi, ia tetap tak mau kalah. Dengan sengit ia malah mengatakan sesuatu yang tak kuduga akan keluar dari mulutnya.

“Apakah aku harus mempertahankan segala kesedihan dan penderitaan yang selama ini aku rasakan, selama menjalin hubungan denganmu?”

Karena merasa tertohok dengan kata-kata yang benar-benar tak kuduga itu, maka dengan cepat aku me-reply.

“Apakah selama hampir enam tahun hanya kesedihan dan penderitaan yang kita dapatkan? Terlalu naif kita menggeneralisasikan semua keadaan yang kita alami. Aku juga kadang merasa sedih, jengkel dengan sikap kamu. Tapi kan aku juga banyak merasakan berbagai kebahagiaan yang kau berikan. Bukankah tidak selamanya kita mengalami kesedihan sepanjang kebersamaan kita?”

“Iya. Tetapi apa yang telah kau toreh begitu membekas dalam hatiku. Terlalu banyak penderitaan yang kau tabur di setiap gurat nadiku. Kamu begitu egois sebagai seorang lelaki dan suami, hingga aku seperti tak pernah merasakan perhatianmu. Atau mungkin engkau memang tak pernah ingin memberikan perhatikan kepadaku?”

“Perhatian?” Kata yang sampai saat ini sangat menggelisahkanku, sebab rasanya begitu sulit mengurai apa yang dimaksud dengan perhatian itu; mengantar-jemput, memanjakan dengan uang atau perhiasan, menjaga waktu sakit, ataukah mungkin memenuhi segala keinginannya....

“Ya. Perhatian!”

“Perhatian apa yang kamu butuhkan? Atau mungkin aku terlalu bodoh sebagai seorang lelaki atau suami untuk menerjemahkan apa yang kamu maksud dengan perhatian itu?”

“Mungkin.”

“Jadi kamu menganggapku bodoh?”

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Sudahlah! Kamu memang selalu tak mampu memahami keinginanku.”

“Tapi mengapa kamu tak pernah mengatakannya? Keinginan apa yang membuatmu harus bertindak begitu dan mempertegas garis pisah di antara kita?”

“Apakah seorang perempuan harus mengatakan semua yang ia butuhkan dari seorang suami? Apakah sebagai suami kamu tak mampu menangkap sesuatu yang kuinginkan dan kurasakan? Minimal yang kerap muncul dari pertengkaran-pertengkaran kita.”

“Menurutku sudah. Dan sebagai manusia biasa, tentu tak semuanya sanggup kutangkap atau kulakukan.”

Tapi istriku tetap saja ngotot. Dia sepertinya telah lama merancang sebuah pemberontakan untukku. Karena setelah kembali membalas sms-ku, ia mematikan hp-nya. Tentu saja aku merasa sangat kecewa, jengkel, marah dan berbagai perasaan bergejolak dalam hatiku.

Tapi mau apalagi. Saat itu ia sedang berada di rumah ibunya. Sementara aku tinggal di rumah yang baru saja kami beli; rumah yang selama ini kami idam-idamkan. Tempat berteduh yang kuharapkan dapat menjadi tempat untuk melahirkan dan membesarkan anak-anak yang telah kami rancang, bersama bertumpuk keinginan-keinginan kami sejak masa pacaran dulu.

Tentu aku tak pernah lupa, ketika ia sambil menggenggam erat jemariku menganggukkan berbagai keinginanku untuk melahirkan tunas yang berkualitas dari rahimnya; satu satunya rahim yang sangat kujaga keperawanannya sebelum kami resmi dalam ikatan perkawinan.

“Aku ingin menyemai firman Tuhan di rahimmu,” kataku dengan lembut sembari mengelus perutnya. Ada rasa kasih yang mendalam yang keluar dari ketulusan kata-kataku. Dan aku tahu, ia memahaminya.

Dan tentunya sebagai pacar yang baik, ia pun menyetujui. Ia kemudian menatapku penuh makna. Sebuah kepasrahan ideal sebagai seorang perempuan, menurutku ketika itu. Tentu aku tidak salah dengan penilaianku. Dan aku yakin itu. Sebab ia bukan perempuan Barat atau berpikiran Barat yang terlalu mengagung-agungkan pemberontakan terhadap kaum lelaki yang dianggap telah menindas kaum mereka, yang hingga menurutku kadang sangat kebablasan. Ya, mungkin seperti feminisme radikallah. Ia bukan pula seorang model yang selalu harus menjaga keindahan tubuhnya, utamanya wilayah pantat dan payudara agar tetap montok, serta perut supaya tetap langsing. Makanya kadang orang-orang seperti itu tidak ingin melahirkan, atau paling tidak, tidak mau menyusui bayinya sendiri. Katanya, payudaranya nanti akan turun dan tidak kencang lagi. Begitu pula dengan pantatnya. Perutnya juga akan menjadi gendut, karena telah menampung janin kurang lebih sembilan bulan dalam rahimnya. Pacarku yang telah menjadi istriku, hanya seorang perempuan biasa yang aku cintai, karena menurutku ia memiliki keunikan dari perempuan-perempuan lain yang kukenal selama ini.

Tapi mau apalagi. Begitulah mungkin perempuan. Ketika merasa ada masalah di dalam keluarganya, ia pun langsung melarikan diri dan seolah mencari perlindungan ke orang tuanya. Padahal menurutku, mungkin alangkah baiknya kalau ia pergi ke rumah mertuanya; orang tuaku. Dengan begitu, persoalan akan sedikit baik, sebab tentunya orang tuaku akan merasa bertanggung jawab terhadap anaknya. Tapi kalau langsung ditangani oleh orang tua masing-masing, tentunya setiap orang tua tak ingin anaknya yang disalahkan. Bagus kalau kedua orang tua masing-masing mampu memahami bahwa mereka tidak perlu terlalu jauh ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anaknya dan tidak berusaha memperkeruh keadaan.

Ketika istriku pergi ke rumah orang tuanya, aku juga malah tak tahu sedikitpun. Kedua anak kami pun diboyongnya. Tentu tinggal aku yang tinggal di rumah. Dalam kondisi begitu, aku sering merasa gelisah. Berbagai keinginan berkecamuk dalam hatiku. Sebenarnya aku tak ingin membiarkan keadaan ini berlangsung lama. Karenanya, aku berinisiatif pergi ke rumah mertuaku untuk menjemput istri dan kedua anakku. Tapi sebelum melaksanakan niatku, smsnya pun masuk dan ia bersikeras tak ingin dulu diganggu.

“Biarkan aku tenang. Aku tak ingin berbicara dan bertemu. Jangan buat keadaan bertambah kacau.”

Tentu aku merasa bingung. Apakah mungkin dengan perlakuan seperti itu semua masalah kami dapat selesai. Bagus kalau kami masing-masing dapat mengendalikan diri dan berusaha saling memahami. Tapi kalau kami malah semakin mendramatisasi keadaan yang kami alami, maka tentu semua akan bertambah kacau. Terlebih lagi. jika telah ada pihak lain yang juga ikut memanas-manasi.

Tapi biarlah, aku coba memahami keinginannya. Aku pun tak jadi berangkat, meski rasa rindu pada mereka mendobrak-dobrak ketegaranku.

Sebenarnya, aku ingin protes karena ia membawa kedua anak kami. Aku takut jika di dalam hati mereka tertanam kebencian kepadaku; ayahnya. Bukankah itu akan menjadi malapetaka terbesar dalam hidupku sebagai seorang ayah yang telah lama memimpikan mendapatkan keturunan yang benar-benar dapat berguna bagi orang tua, agama dan bangsanya.

Di rumah, bila tak ada kegiatan, aku hanya duduk-duduk di teras rumah. Dalam keadaan begitu, air mataku terkadang tak mampu kubendung. Butiran-butiran bening itu seakan memaksa keluar, sebagai tanda perkabungan bagi kesedihan yang menimpaku.

Menatap bunga-bunga yang kami tanam, kerap mengingatkanku pada istriku. Bunga mawar yang kami tanam di sudut taman yang tanahnya agak tinggi itu, bila kupandangi seolah ingin bercerita tentang kebahagiaan kami saat menanam dan memeliharanya. Bunga yang kami tanam ketika baru saja menempati rumah itu. Di beberapa bagian di halaman rumah kami yang cukup luas, berbagai jenis bunga juga kami taman. Istriku memang sangat suka dengan bunga-bunga. Begitu pula dengan aku. Makanya kami selalu cocok kalau bicara tentang bunga.

“Tapi aku juga sudah menanam bunga-bunga di sini. Bunga mawar yang dulu kita letakkan di atas tanah yang agak tinggi pun juga telah kutanam di halaman dekat kamarku,” katanya membalas sms-ku, saat kuingatkan tentang bunga-bunga yang kami taman bersama. Sengaja kulakukan agar istriku mengikat kenangan yang sama-sama kami bangun melalui bunga-bunga.

Membaca jawabannya, aku tidak lagi me-reply sms-nya, tetapi langsung menindis tombol dan mencari namanya di hp-ku, bermaksud menghubunginya. Jujur saja, selain untuk memberi komentar tentang sms-nya, aku juga ingin mendengar suaranya. Sebagai suami yang begitu mencintai istrinya, tentu aku juga merasa sangat rindu. Entah, apakah juga istriku masih menyisakan setitik kerinduan dalam hatinya.

Tapi ia tak mau mengangkatnya. Dengan cepat aku kembali membalas sms-nya.

“Mungkin yang kamu tanam itu sama jenisnya dengan bunga yang ada di halaman rumah kita. Tapi, apakah kamu tak merasakan ada kekuatan lain yang tersimpan pada tanaman itu? Karena kita menanamnya bersama-sama, tentu. Di situ waktu berproses dan berhenti, lalu memahat kesadaran holistik dalam diri kita.”

“Entahlah....”

“Bukankah di situ juga tersimpan pedih; ketika jemarimu terkena pisau saat menggali tanah untuk menanam bunga-bunga itu? Bagaimana tanganku berdarah karena teriris beling saat menguruk tanah, menimbun akarnya. Kamu masih ingat kan, kita masih dapat tersenyum di antara perih yang mendera. Dan sampai kini kamu juga bisa melihat bunga-bunga itu dapat tumbuh subur dan bermain dengan riangnya bersama angin.”

“Tapi aku bukan bunga-bunga.”

“Benar. Tapi waktu yang berhenti dalam dirimu tak pernah hilang, bahkan menjelma ribuan cinta dalam totalitas kesadaranku. Sama seperti bunga-bunga itu. Meski ia tertiup angin kencang atau badai sekalipun, waktu itu tetap bersamanya. Bahkan jika bunga-bunga itu tumbang dan mati pun, waktu tetap bersamanya; juga menjelma dalam diri kita. Kita akan selalu ingat itu; mungkin sampai kita tua dan semua berubah.”

Tak ada lagi balasan. Dan ketika hp-nya kuhubungi juga tak aktif. Beberapa lama kemudian, karena tak tahan sepi dan didera rindu, aku pun memberanikan diri mendatangi rumah orang tuanya. Namun hanya anak-anakku yang kutemukan tanpa istriku. Sambil menangis, ibunya hanya mengatakan bahwa istriku pergi tanpa ia tahu ke mana. Kepada anak-anak kami yang masih belum begitu mengerti hidup, istriku berpesan akan pergi menanam bunga-bunga di negeri yang jauh. Entah. Aku juga tak tahu. Mungkin ia pergi membuang waktu yang ada dalam dirinya, agar aku tak pernah lagi mengingatnya.

Aku tersentak dan tertegun beberapa saat. Kebekuan menjalari sekujur tubuhku. Bayangan bunga-bunga yang kami tanam berdua berkelebat sungguh cepat dalam ingatanku. Kutemukan perempuan itu berusaha membuang semua kenangan yang kami pahat di kepala kami masing-masing. Di sebuah taman yang ditumbuhi bunga-bunga kudapati tubuhnya terbujur kaku. Di nadinya, setangkai mawar menancap kokoh.

Keputusasaan memenjarakan otak dan nuraniku. Keseluruhan hidupku seperti tercerabut hingga akar-akarnya. Karena tak sanggup, maka aku pun memutuskan untuk membuang waktu dalam diriku. Di sebuah pohon yang agak tinggi di samping rumah kami, di atas bunga-bunga yang kami taman, seluruh waktu dalam diriku luruh.

 

Makassar, 13 April 2005