Make your own free website on Tripod.com

Perlukah Bahasa Nasional Kedua?

Oleh Idwar Anwar

 

Menyimak tulisan MT Zen dengan judul Berbahasa Indonesia Secara Baik (Kompas, 21/10/00) ada beberapa paparan yang cukup menarik tentang sekelumit persoalan mengenai penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Dalam tulisannnya MT Zen menjelaskan tentang penggunaan beberapa istilah yang salah serta bagaimana kecenderungan para elit politik dan birokrat pada masa rezim Soeharto menggunakan bahasa yang salah. Dan yang lebih menarik adalah perlunya mempelajari satu bahasa asing secara sungguh-sungguh. Penuturan MT Zen dalam tulisannya tersebut merupakan sebuah kegelisahan tersendiri dari seorang anak bangsa.

            Tidak dapat disangkal bahwa bahasa Indonesia terus berkembang seperti tanpa kendali. Banyak kosa kata yang muncul tanpa aturan dan nampaknya sangat sulit ditangkal oleh lembaga terkait. Persoalan ini memang merupakan hal yang tidak mudah untuk ditangani, sebab di satu  sisi para elit dan yang bekecimpung di dunia tulis menulis sendiri merupakan salah satu penyebab semakin banyaknya kerancuan dalam bahasa Indonesia.

            Ketika Soeharto berkuasa, kita dapat mendengar akhiran ‘an’ dalam penggunaannya dikalangan pejabat banyak yang berubah menjadi ‘en’. Kata ‘daripada’ juga cukup populer. Realitas ini juga diikuti dengan semakin senangnya orang menggunakan kata yang berbau eufemisme.

Keterlibatan media cetak pun semakin memperparah persoalan dengan banyak melakukan kesalahan berbahasa dalam pemberitaannya, utamanya media yang manajemen pemberitaannya belum profesional. Sehingga munculnya  banyak istilah asing yang tidak mengindahkan aturan penyerapan ke dalam bahasa Indonesia dan penggunaan bahasa yang tidak tepat akan menyebabkan kerancuan tersebut akhirnya sampai pada masyarakat dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di satu sisi, kesalahan tersebut memang tidak dapat dibenarkan begitu saja. Namun di sisi lain, utamanya kesalahan penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, hal tersebut wajar terjadi sebab terkadang ada satu kata yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, sehingga penggunaan istilah asing yang diindonesiakan tidak dapat dihindari. 

           

Jangan Jadi Penjara

Budayawan Y B Mangunwijaya pernah mengatakan bahwa bahasa itu jendela tapi juga penjara. Mereka yang menguasai bahasa Indonesia saja akan terpenjara oleh ketidakmampuannya memahami wacana di luar bahasa Indonesia. Mereka yang   rigid   dan tidak terbuka atau tidak memberikan ruang pada munculnya perkembangan dan pengaruh dalam bahasanya sendiri pun akan terpenjara oleh bahasa bersangkutan.

Pikiran Mangunwijaya ini telah membuka mata bagi pemakai bahasa Indonesia untuk tetap terbuka pada bahasa lain. Sebab bahasa merupakan produk kebudayaan yang hidup dan akan terus berubah (dinamis), dimana istilah , struktur dan gramatika kerap muncul. Bahasa bukanlah sesuatu yang rigid dan tidak produktif.

Bahasa bukanlah penjara, tetapi alat untuk melihat secara jelas dan jauh sebuah kebudayaan suatu bangsa. Ketika Kahlil Gibran menulis The Prophet dan beberapa karya lainnya atau ketika William Shakespeare dengan Oidipus Di Colonus dan beberapa karya besarnya yang lain, kita dapat melihat keindahan suatu bahasa yang begitu mendalam dalam mengungkap suatu realitas atau keinginan sang penulis. Kita juga dapat melihat atau membaca karya Edgar Allan Poe “The Riven”  dan beberapa karya lainnya yang membuat namanya melambung sebagai penyair Inggris yang monumental dan banyak menambah kekayaan kosa kata bahasa Inggris.

Kekuatan bahasa suatu bangsa terletak pada kekayaan kosa kata bahasa bangsa  tersebut. Maka hampir tak satu pun bahasa yang ada di dunia ini tidak menyerap bahasa lain kedalam bahasanya. Jika pun ada maka bangsa tersebut merupakan bangsa yang sangat terasing dari pergaulan dengan bangsa lain.

Dinamisnya suatu bahasa dalam menyerap bahasa lain, tidaklah berarti menghilangkan identitas bahasa itu sendiri. Bahasa Indonesia merupakan bahasa perjuangan dimana bahasa Indonesia, yang menyatukan wilayah dan suku bangsa yang ada di nusantara yang secara geografis tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan budaya yang beraneka ragam. 

Tinggal bagaimana para pemakai bahasa Indonesia lebih terbuka dengan bahasa lain. Sehingga pengungkapan suatu persoalan dapat lebih jelas karena kekayaan kosa kata yang dimiliki oleh bahasa Indonesia.

 

Bahasa Nasional Kedua atau Bahasa Komunikasi Ketiga

Perlukah kita bahasa nasional kedua? Ketika membaca gagasan almarhum  Prof. DR. Sultan Takdir Alisjahbana yang menelorkan secara tegas tentang perlunya mempelajari satu bahasa asing secara sungguh-sungguh, peryataan tersebut mungkin ada korelasinya dengan pertanyaan di atas.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional pertama yang disepakati ketika sumpah pemuda 28 Oktober 1928 lalu. Namun di sisi lain bahasa Indonesia merupakan bahasa komunikasi kedua setelah bahasa daerah. Realitas ini menggambarkan bahwa kemungkinan adanya bahasa nasional kedua dapat saja terjadi.

Alasan lain bahwa bahasa nasional yang dipakai selama ini juga diambil dari salah satu bahasa yang ada di nusantara dan dalam perjalanannya sangat banyak mengadopsi kosa kata dari beberapa bahasa yang ada di dunia, seperti Belanda, Arab daan Inggris. Sehingga bahasa yang kita gunakan saat ini tidak lagi murni bahasa melayu atau bahasa Indonesia.

Memang bahasa merupakan jendela untuk mengetahui kebudayaan suatu bangsa. Tapi bukankah kita mempunyai bahasa daerah atau bahasa ibu yang bagaimana pun akan tetap ada dalam kepala kita. Dengan bahasa daerah inilah bangsa lain akan mengetahui budaya asli bangsa Indonesia yang sangat plural, bukan bangsa yang baru saja dibentuk oleh segelintir orang. 

Bangsa Indonesia hanyalah merupakan pemersatu bangsa-bangsa yang ada di nusantara, sehingga  bangsa Indonesia tidak mempunyai kebudayaan. Kebudayaan bangsa Indonesia adalah kebudayaan yang ada di seluruh Nusantara. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kebudayaan bangsa Indonesia merupakan puncak-puncak kebudayaan daerah.

Dengan adanya bahasa nasional kedua, kita tidak akan kehilangan identitas bangsa. Sebab identitas bangsa Indonesia dibangun dari beberapa kebudayaan yang tersebar di nusantara. Kita mempuyai karya sastra tentang mitologi Sawerigading yang terpanjang di dunia, jauh lebih panjang dibanding Mahabarata atau Ramayana yang dibanggakan orang India. Kita juga masih mempunyai karya-karya sastra Ronggowarsito dan masih banyak lagi karya yang dapat mengungkap kebudayaan asli bangsa-bangsa di Indonesia. Sehingga bahasa nasional kedua bagi bangsa Indonesia bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. 

            Dari beberapa bahasa asing yang ada di Indonesia, hanya bahasa Arab dan Inggris yang paling banyak penuturnya. Ditilik dari serapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, kedua bahasa ini juga merupakan kontributor terbanyak. Dari realitas ini kita dapat memilih bahasa apa yang  akan dijadikan bahasa nasional kedua.

            Di negara Malaysia telah lama menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional  kedua dan sekarang penggunaan bahasa Arab secara intens telah dimulai untuk kemudian dijadikan sebagai bahasa ketiga. Lantas, apakah peluang untuk munculnya bahasa nasional kedua tersebut juga akan ada di Indonesia? Atau paling tidak penerapan salah satu bahasa asing sebagai bahasa komunikasi ketiga perlu dilakukan.  Mungkin saatnya pemerintah atau instansi yang terkait dapat  memikirkan  kemungkinan tersebut.