Make your own free website on Tripod.com

Colliq PujiE Bukan Pengarang Sure’ Galigo

Oleh Idwar Anwar

 

Karya sastra Galigo tidak dapat dipungkiri merupakan karya sastra klasik terbesar di dunia yang masih ada hingga kini. Bahkan menurut R.A. Kern dalam bukunya Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigocyclus Behoorende Handschriften der Leidsche Universiteitbibliotheek yang diterbitkan  oleh  Universiteitbibliotheek Leiden (1939 : 1) menempatkan Sure’ Galigo sebagai karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia setaraf dengan kitab Mahabarata dan Ramayana dari  India, serta sajak-sajak Homerus dari Yunani­. Pernyataan senada ini juga diungkapkan Sirtjof Koolhof  pada pengantarnya dalam buku I La Galigo yang diterbitkan atas kerjasama Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) dan Penerbit Djambatan. (1995 : 1). Koolhof  mengungkapkan bahwa Sure’ Galigo tersebut panjangnya mencapai lebih 300.000 baris, sementara Epos Mahabarata jumlah barisnya hanya antara 160.000-200.000.

Lantas, siapa yang mengarang cerita sepanjang itu? Sure’ Galigo atau Kitab Galigo, di kalangan masyarakat Sulsel sejak dahulu dianggap sebagai sebuah kitab suci yang sangat disakralkan. Di dalamnya berisi banyak episode cerita yang supranatural. Tidak sembarang orang dapat melihatnya, apalagi membacanya. Biasanya kitab ini dibacakan pada saat-saat tertentu. Bahkan isi kitab ini dipercaya sebagai mantra untuk menyembuhkan penyakit atau untuk hal-hal lain. Oleh sebab itu, kitab ini bagi masyarakat, ketika itu, disimpan di tempat yang sangat dijaga, baik kebersihan maupun kerahasiaannya.

Pada mulanya, isi kitab Galigo ini merupakan cerita-cerita yang bersifat lisan yang berkembang di masyarakat dari generasi ke generasi. Namun, pada saat masyarakat telah mengenal aksara, maka cerita-cerita ini pun akhirnya dituliskan di atas daun lontar yang kemudian dikenal sebagai lontaraq. Di masyarakat Sulawesi Selatan tradisi penulisan lontaraq ini akhirnya terus berkembang. Berbagai cerita, elong, pau-pau bahkan tulisan sejarah pun bermunculan.

Pengaruh tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Sulsel ternyata turut mempengaruhi cerita Galigo yang telah dituliskan. Dalam tradisi lisan memang pada umumnya naskah tidak dihafal seluruhnya, tapi oleh Passure’ (orang yang membacakan cerita) yang dihafal hanyalah kerangka ceritanya yang disebut sebagai formula cerita. Dalam sebuah formula cerita, terdapat yang disebut slot-slot yang kosong. Slot-slot inilah yang diisi oleh pencerita pada saat cerita diceritakan. Di sini improvisasi pencerita bermain, disamping juga adanya pengaruh situasi, zaman, tempat dan keluasan pengetahuan pencerita. Inilah yang menyebabkan setiap cerita memiliki banyak variasi.

Pengaruh tradisi lisan dalam tradisi tulis memang nampak jelas pada cerita dalam Sure’ Galigo. Ini dapat dilihat dari banyaknya variasi cerita yang muncul, meski inti ceritanya tidak berubah (garis besar alur cerita). Variasi-variasi cerita ini terdapat dalam berbagai lembaran lontaraq, baik diksi, gaya bahasa, kejadian, maupun nama pelaku yang meski hanya satu, tapi memiliki nama yang berbeda-beda.

Sure’ Galigo merupakan karya sastra yang memiliki kompleksitas alur cerita yang luar biasa, serta banyaknya menampilkan tokoh di mana satu tokoh kadang memiliki nama yang beragam. Maka, untuk memahami kompleksnya alur cerita dan seringnya berubah-ubah nama tokoh, kita haruslah terlebih dahulu memahami pula alur cerita Galigo dalam strukturnya secara keseluruhan, dari episode ke episode yang lain. Dan ini bukan pekerjaan mudah.

 

Colliq PujiE Pengumpul dan Penyalin Ulang Sure’ Galigo

 

Ketika Dr. Benjamin Frederik Matthes –seorang misionaris kristen— datang ke Sulawesi Selatan dengan maksud menyebarkan agama kristen, ia menemukan sebuah keganjilan dalam masyarakat. Meski sebagian masyarakat mengaku telah beragama Islam, namun mereka masih sering membaca sebuah kitab yang tentunya bukan al-Qur’an. Matthes melihat kitab tersebut begitu disakralkan. Tidak sembarang orang dapat melihatnya.

Karena rasa penasaran, maka ia pun berinisiatif untuk mengetahui kitab apa yang dibaca tersebut. Setelah mendapatkan keterangan yang diinginkannya, Matthes pun mencari orang yang banyak tahu tentang bahasa Bugis dan kebudayaan di Sulawesi Selatan. Sembari mencari ia pun terus belajar bahasa Bugis dan bahasa Makassar.

Dalam perjalannya untuk mencari bahan tentang penelitiannya dalam bahasa Bugis, ia pun akhirnya menginjakkan kakinya di Tanete pada tahun 1852 (Brink, 1943:172). Di sinilah ia bertemu dengan seorang perempuan yang saat itu diperkirakan telah berusia 40 tahun. Namanya  Colliq PujiE. Lengkapnya Colliq PujiE -Arung Pancana Toa-  Matinroe ri Tucae’. Ia pun biasa disebut Retna Kencana Datoqna La Pageqlipue’.

Sejak pertemuan itu, Matthes melihat banyak kelebihan yang dimiliki oleh Colliq PujiE. Selanjutnya ia pun menjadi narasumber, bahkan dalam banyak hal Colliq PujiE dapat disebut sebagai guru bagi Matthes yang sangat ingin mempelajari bahasa Bugis dan Makassar.  Colliq PujiE memang menguasai dengan baik kedua bahasa tersebut, bahkan bahasa Galigo dan bahasa Melayu.

Pertemuan demi pertemuan pun mereka lakukan. Dari sinilah akhirnya Matthes mengetahui banyak tentang kitab yang selama ini membuatnya penasaran. Dan berdasarkan keterangan yang diperolehnya dari Colliq PujiE, akhirnya DR. B.F. Matthes pun berinisiatif untuk mengumpulkan seluruh cerita yang tercecer tersebut menjadi sebuah episode cerita yang utuh.    

Untuk melakukan proyek ini, Matthes pun tetap memakai Colliq PijiE sebagai pengumpul semua naskah yang tersebar. Namun, untuk mengumpulkan semua naskah yang ada ternyata mengalami banyak kesulitan. Selain karena naskah tersebut tersebar di seluruh daerah Sulawesi Selatan bahkan ada yang ke luar, naskah-naskah tersebut juga telah banyak yang terbakar. Kendala lain yang sangat sulit diatasi yakni kebanyakan masyarakat enggan memperlihatkan apalagi meminjamkan naskah yang dimilikinya dengan berbagai alasan.

Setelah naskah banyak terkumpul, mulailah Colliq PujiE menyusun naskah yang berisi episode-episode yang lepas satu dengan yang lainnya tersebut menjadi cerita-cerita yang tersusun. Setelah rampung, ia pun mulai menyalinnya satu per satu menjadi sebuah cerita yang utuh dengan alur cerita yang sambung menyambung. Meski demikian masih banyak episode yang tertinggal.

Usaha keras yang dilakukan Colliq PujiE ternyata tidaklah sia-sia. Ia pun berhasil merampungkan berbagai episode yang tercecer tersebut menjadi sebuah cerita yang utuh. Cerita ini terdiri dari 12 jilid yang tebal keseluruhannya yakni 2851 halaman folio (Fahruddin A. Enre, Bingkisan Bungai Rampai Sulawesi Selatan: 172). Dan untuk melacak beberapa episode yang belum ditemukan, Colliq PujiE juga membuat ringkasan dari seluruh cerita Galigo. Menurut ringkasan tersebut, cerita yang telah ia kumpulkan itu baru sepertiga dari keseluruhan cerita yang mestinya ada. Jadi keseluruhan cerita Galigo tersebut sekitar 9000 halaman. Naskah yang telah ditulis ulang oleh Colliq PujiE inilah yang dibawa ke Belanda dan sampai saat ini masih tersimpan baik di Musium KITLV, Leiden.

Bersadarkan uraian tersebut, kita dapat mengetahui bahwa Colliq PujiE bukanlah pengarang Sure’ Galigo, sebab memang karya tersebut anomim (berasal dari tradisi lisan). Lontaraq-lotaraq yang terkumpul tersebut juga sulit diketahui siapa penulisnya (pengarangnya). Colliq PujiE hanyalah pengumpul dan penyalin dari berbagai episode yang terdapat dalam berbagai naskah yang dikumpulkannya dari masyarakat yang tersebar di seluruh Sulawesi Selatan. Realitas di atas merupakan  salah satu upaya meluruskan pandangan masyarakat yang selama ini mungkin menganggap bahwa Colliq PujiE-lah yang mengarang Sure’ Galigo. Kekhawatiran ini semakin besar ketika membaca Katalog Buku Galeri Harmoni yang diterbitkan oleh Konsorsium Pustaka Regional Makassar Sulawesi Selatan yang merupakan kerjasama Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation beberapa waktu lalu. Di dalam buku tersebut tertulis jelas pengarang buku La Galigo adalah Arung Pancana Toa. Sure’ Galigo adalah karya anomin.

Arung Pancana Toa memang seorang sastrawan besar ketika itu. Banyak karya yang dihasilkannya, seperti, Sejarah Tanete Kuno yang pernah diterbitkan oleh Niemann La Toa yang berisi kumpulan adat dan kebiasaan raja-raja Bugis. Sebagian juga pernah diterbitkan Matthes dalam Boegineesche Christomathie II. Beliau juga banyak menulis mengenai kebudayaan dan upacara orang Bugis. (Fahruddin A. Enre, Bingkisan Bungai Rampai Sulawesi Selatan: 179) Karya sadurannya yang juga cukup terkenal yakni Hikayat Bayan Budiman. Karya aslinya yang paling indah, menurut orang yang pernah membacanya, adalah  Sure’ Baweng. Karya ini berisi petuah-petuah yang memiliki nilai estetika yang sangat tinggi. Tapi, sekali lagi beliau bukanlah pengarang Sure’ Galigo. Beliau hanya pengumpul dan penyalin ulang karya sastra terbesar dan terpanjang di dunia itu. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amin.

 

Idwar Anwar adalah staf pada Pusat Studi La Galigologi, Divisi Ilmu Sosial, Ekonomi  dan Humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian Unhas dan Ketua Komunitas Penulis Tamalanrea (KOMUNITA) Makassar.