Make your own free website on Tripod.com

Jejak Tuhan di Mata (Puisi) Husni Djamaluddin

Oleh Idwar Anwar[1]

 

jangan marah ya Allah

jika seperti Rabiah al Adawiyah

aku pun jatuh cinta

            padaMu

(Husni Djamaluddin)

 

Ada suatu peristiwa yang membuat saya terenyuh dan kemudian mengejawantah menjadi sebentuk genangan kenangan tentang diri Bapak Husni Djamaluddin. Keterenyuhan itu bermula di suatu hari yang gerah, dalam sebuah ruangan yang dipenuhi oleh ratusan bahkan ribuah orang. Ketika itu, saya menyaksikan seorang lelaki yang dipapah seorang wanita, menjejakkan kakinya dengan gontai di atas panggung di dalam Baruga Andi Pettarani, Universitas Hasanuddin.

 

Wajahnya tenang, meski ia memikul penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Tatapanya  tetap tajam menikam keterpakuan orang-orang yang memenuhi ruangan pada acara Festival Puisi Internasional yang berlangsung di Baruga Andi Pettarani Unhas sejak 2-5 April 2002 lalu. Kehadiran sosok itu –yang kemudian duduk di sebuah kursi yang telah disiapkan panitia-, telah menyedot hampir seluruh kesadaran orang-orang yang hadir.

 

Sosok itu, seperti membawa sebuah kesejukan baru... sebuah semangat baru. Riak suara yang menderu, seketika sesap oleh lena yang dalam, menyaksikan ia menghenyakkan pantatnya di atas kursi. Seperti ada yang lain... ya memang ada yang lain. Lain dari semua orang-orang yang terlebih dahulu menjejakkan kakinya dan mengaung dengan beribu bait puisi yang keluar dari mulutnya.

 

Lain... tentu memang lain, sebab sosoknya ketika itu diliputi oleh berlaksa rasa sakit jasmani. Lain... sebab ia masih menyempatkan diri datang dan menghamburkan sejuta kesejukan dengan bait-bait puisinya. Lain... sebab suaranya berat, dan bukan seperti beratnya suara Sutardji Calsoum Bachri. Suaranya berat oleh usia dan penyakit yang menggerogoti. Lain... sebab sukmanya telah mengalahkan segala raga... sebab... ia telah JATUH CINTA PADA TUHAN.

 

Cintalah yang menjadikannya tegar berzikir di atas panggung dengan sajak-sajaknya. Cintalah yang membuatnya tegar dan dengan suara yang berat ia menbacakan Hikayat Bulan dan Khairan atau Salib. Dan setelah itu ia meninggalkan gemuruh tepukan menuju rumah sakit yang akan meramu raganya.

 

Husni Djamaluddin. Nama itu, di antara jejal orang-orang, telah menabur sepi dalam perenungan yang dalam. Ia datang bersama para penyair dunia, menghadirkan sebentuk perenungan pada kehidupan. Rambutnya yang telah memutih, adalah bait-bait syair yang ditulis Tuhan di raganya.

 

Seperti sebuah dentuman yang maha dahsyat dalam ruang-ruang berkesenian di Sulawesi Selatan dan di Indonesia, nama Husni Djamaluddin hadir dengan geliat tersendiri. Karya-karyanya menghadirkan cita rasa tersendiri, meski tema-tema yang diembannya juga digarap oleh para penyair lainnya.

 

Setelah peristiwa itu, persentuhan saya dengan karya-karya Husni Djamaluddin kembali berlanjut. Seperti tak ada ruang yang kosong dalam menapaki hari-hari, hingga terakhir saya menemukan sebuah Kumpulan Sajak, Indonesia, Masihkah Engkau Tanah Airku? yang diberikan oleh Bapak Anis Kaba, yang juga seorang penyair senior di Sulawesi Selatan.

 

Menyimak Kumpulan Sajak Husni yang merupakan penyatuan dari empat kumpulan sajaknya, membuat saya seperti menapaki jejak perjalaman hidup seseorang yang sedang mencari Sang Kekasih. Sebab baginya; .../tak ada lagi jam satu/tak ada jam dua puluh empat/tak ada hari baru/tak ada hari lampau/tak ada jam/tak ada menit/tak ada detik/yang ada ialah abad-abad/yang tak bakal tamat/abad-abad sunyi/bagi yang tak punya Kekasih. Ia ingin mencintaiNya hingga akhir hayatnya.

 

Begitu besar cinta Husni pada Sang Kekasih, hingga cinta itu pun telah membuatnya harus mengenali betul jati dirinya. Dan yang dicintainya pun mencari dan telah menunjukkan diri padanya. “Sesungguhnya, tak pernah pencinta mencari tanpa dicari pula oleh kekasihnya[2], kata Jalaluddin Rumi dalam sebuah bait syairnya. .../Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya. Kekuatan cinta semacam inilah yang dikenal di kalangan Sufi sebagai sebuah wilayah non-existent (ketidak-beradaan) yang mampu merenggut semua potensi diri seorang pencinta. Tidak heran, jika yang dicintai berada dalam wilayah yang berkekuasaan dan kemandirian. Adapun diri pencinta tampak dalam bentuk penghambaan, kerendahan diri dan kesengsaraan.[3]

 

Apa yang terungkap dalam bait syair Rumi di atas seolah menjadi sebuah refleksi dari pencarian yang sangat dalam yang dilakukan oleh Husni Djamaluddin. .../telah kering segala laut yang pernah bergelombang/kuserap ke dalam sukmaku mencari Yang. (Mencari Yang).

 

Keteguhannya dalam mencari Sang Kekasih, bukanlah sebuah perjalanan tanpa rintangan. Sepi adalah salah satu jawaban untuk pencarian Sang Kekasih. ..../sepi tak bertemu/sepi tak terbagi/sepi tak bertepi/sepi yang sunyi/sepi yang azasi/sepi yang kau/sepi yang aku/sepi nya kau/sepi nya aku/k a u/k a u/ a k u/aku (Pada Mulanya Sepi). Atau: .../aku tak tahan/diremuk sepi/aku tak tahan/kehabisan Tuhan (Kirimi Aku Empat Tuhan).

 

Keputusan untuk terus mencari Sang Kekasih dalam puisi-puisinya, adalah icon imunitas diri Husni yang sesungguhnya terhadap peluang munculnya dependensi pada fana dunia. Selain itu pencarian tersebut juga lahir dari adanya keinginan untuk mengejawantahkan sebuah percintaan abadi dalam kehidupannya. Ia selalu merindukan pujian Sang Kekasih. Sebab bukankah membiarkan diri dalam pujian Sang Kekasih, bagai membiarkan butiran madu mengalir dalam kerongkongan.

 

Husni pun dengan mantap melangkah. bismillah/benihlah/bismillah/tumbuhlah/bismillah  buahlah/bismillah/rata segala gunung/bismillah/timbun segala jurang/bismillah/tenang segala laut/bismillah/reda segala badai/bismillah/lunak segala baja/bismillah/jinak segala singa/bismillah/henti segala benci/bismillah/ke hulu segala rindu/bismillah/ke muara segala cinta (Bismillah Aku Melangkah).

 

Adakah yang mampu mengalahkan sebuah keyakinan yang kaffah? Keyakinan untuk melepaskan diri dari kefanaan dunia, untuk kemudian berdiam dalam pelukan Sang Kekasih, setelah sekian lama seperti ada hijab yang menghalangi atau mungkin karena memang tak pernah menghampirinya dan mencintainya secara totalitas. Maka, ketika pertemuan dengan Sang Kekasih terjadi, seorang pencinta akan menghadapi sebuah keterpanaan abadi. Sebuah ritme zikir akan menggelinding menghampiri setiap denyut netron dan proton yang bercokol dalam tubuh, menjadikan seorang pencinta akan lebur dalam penghambaan hakiki. “Adakah sesuatu dalam kehidupan ini yang lebih indah daripada ketika seorang pencinta mengecap buah manis hasil pertemuan dengan kekasih, yang diiringi dengan segala penderitaan karena keterpisahan mereka?”  tulis Jami[4].

 

Itulah yang terjadi pada diri Husni yang kemudian menjelma dalam bait-bait puisinya. Dalam pertemuan, Husni merasakan betapa sedih berpisah dengan Sang Kekasih, hingga ..../air mata/dari samudera mana kau tiba/hingga/pipi basah kuyup/ketika usai/tawaf wada’/Ka’bah/kutengok sekali lagi/berpisah/dengan Kekasih/alangkah pedih (Air Mata).

 

Semakin kita merenungi untaian bait-bait puisi Husni, semakin lama kita akan merasakan bahwa puisi-puisi Husni punya “mata” untuk menangkap berbagai realitas (insaniah), terlebih untuk menangkap sebuah dunia ilahiah. Jejak-jejak Tuhan begitu terasa. Ia berhasil menggunakan “mata”nya dalam memotret Sang Kekasih dan mengukirnya dalam bait-bait puisinya.

 

Mata-mata Husni bergerak ritmis bertengger di berbagai realitas insaniah dan ilahiah. Dalam pahaman kaum Sufi, mata pada hakekatnya terdiri atas dua macam yakni mata indrawi (mata dhahir) dan mata batin. Mata indrawi adalah mata yang hanya menjangkau alam yang dapat dirasa dan alam kasat mata (al-his wa al-musyahadah). Adapun mata batin adalah sebuah alam malakut (alam malaikat).

 

Karenanya, manusia yang mampu mensinergikan kedua mata itu dengan baik untuk semakin dekat dengan Sang Kekasih dan melakukan penghambaan secara totalitas atas kekuasaanNya, maka insya Allah ia akan menjadi manusia yang sempurna: manusia yang di dalamnya terdapat ruh dari wahyu ilahi yang melaluinya seluruh tujuan penciptaan terpenuhi. tubuhku/perahu/tempat ruhku/berlayar/di tujuh samudera/berlabuh di lima benua/ruhku pelaut/berlayar/di samudera waktu/berlabuh/di benua Engkau (Tubuhku Ruhku). Lihat pula kemampuan menangkap mata dhahirnya yang pada hakekat senantiasa mengarah pada persentuhan dunia ilahiah yang diramunya dengan bahasa satire: .../beribu-ribu rumah mewah/di kawasan-kawasan indah/siapa yang punya/beribu-ribu rumah kotor/atapnya bocor/siapa yang punya/beribu-ribu kredit card beredar/di pasar swalayan/di restoran-restoran besar/di butik-butik/di hotel-hotel berbintang lima/siapa yang punya/beribu-ribu gelandangan/berjalan dengan perut kelaparan/siapa yang punya.... (Stop pinggir). Atau: di uratku deras mengalir sungai Sa’dang/tulang igaku tanduk-tanduk kerbau belang/nafasku angin pegunungan angin lembut di rumput ilalang/langit bapakku bumi ibuku/toraja namaku (Namaku Toraja).

 

Kemampuan Husni dalam menangkap kedua hakekat realitas tersebut juga merupakan bagian dari sebuah persinggungan posistif antara dua kosmos: mikrokosmos dan makrokosmos. Dalam teori kosmos, manusia dianggap sebagai mikrokosmos dan alam semesta merupakan makrokosmos. Manusia dianggap sebagai ringkasan alam semesta atau alam semesta kecil. Meski demikian, sesungguhnya manusia merupakan sebab awal dan sebab akhir alam semesta. Renungkan sebuah syair yang dianggap berasal dari ‘Ali: .../Engkau menganggap dirimu tubuh kecil (mikrokosmos), padahal dunia besar (makrokosmos) itu terbungkus di dalam batinmu. [5]

 

Karenanya, --dan yang lebih terpenting adalah terdapatnya sebuah wilayah transenden dalam diri manusia: barang siapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenali Tuhannya. Bukanlah itu merupakan sebuah keharusan bagi pencinta untuk terus dicintai? Di dalam diri manusia bukankah juga ada Tuhan yang kadang tak kita sadari keberadaannya? Husni pun merintih dalam penghambaannya: .../adalah aku rumah adalah Kau tuan rumah adalah aku rumahMu/adalah aku tubuh adalah Kau ruh adalah aku tubuhMu/adalah aku tanah adalah aku tanahMu/teralir airMu/tertiup anginMu/terbakar apiMu/.... (Adalah). Maka, mengenali diri menjadi proses mutlak yang harus terus dilakukan. Carilah jejak-jejak Tuhan dalam diri dan jadilah pencinta sejati. .../jangan marah ya Allah/jika seperti Rabiah al Adawiyah/aku pun jatuh cinta/padaMu (Jangan Marah Ya Allah).*

 

 

tulisan ini untuk buku memperingati 70 Tahun Bapak Husni Djamaluddin. dikirim ke husnidjamaluddin@yahoo.com atau zulfikaryunus@yahoo.com


 

[1] Idwar Anwar lahir di Palopo. Menamatkan kuliahnya pada Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Asia Barat (Arab). Sejak mahasiswa sampai sekarang aktif menulis di berbagai media, berupa artikel (budaya), esai, puisi dan cerpen. Menjadi editor buku “La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia” yang merupakan  kumpulan makalah pada Festival dan Seminar Internasional La Galigo di Barru, 2002. Antologi puisi pertamanya “Zikir” terbit 1997. Antologi cerpen “Ibu, Temani Aku Menyulan Surga” terbit Desember 2003 dan Juni 2004. Antologi puisinya “Namaku I La Galigo” terbit 2004. Saat ini menjadi Ketua Komunitas Tamalanrea (KOMUNITA) Makassar dan Pembina Komunitas Kampung Sawerigading. Pernah menjadi Redaktur Pelaksana di Tabloid Aliansi Baru dan Tabloit Arung yang terbit di Makassar. Kini aktif menulis buku dan menjadi peneliti lepas.

[2] Cinta Alam Semesta dalam Jalaluddin Rumi, Ajaran dan Pengalaman Sufi, yang ditulis oleh Reynold A Nicholson, hal. 98.

[3] idem.

[4] Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami, seorang sufi dan sastrawan besar abad XV yang dilahirkan pada 1414 M di sebuah kota kecil bernama Jam, Afganistan. Di antara karya prosanya yakni Nafahatul Uns (Nafas dari Bayu Persahabatan), koleksi biografi para wali sufi, dan Beharistan (Kediaman Musim Semi). Karya puisinya yang besar adalah Haft Awrang (Tujuh Tahta Rahmat), yang terdiri atas 25.000 bait.

Sementara roman alegoris Yusuf & Zulaikha merupakan puncak keberhasilannya. Jami wafat pada 1492 M, dan di tengah desakan rakyat, jenazahnya diusung oleh para ilmuwan, ulama, pangeran, dan bangsawan.

[5] Op. Cit