Make your own free website on Tripod.com

Radio dan Pengalienasian Bahasa Lokal

Oleh Idwar Anwar

 

"Aku ingin angin berbagai budaya bertiup bebas dalam rumahku, tapi aku menolak untuk tersapu jauh olehnya"

                                                                  (Mahatma  Gandhi)

 

Kebudayaan, sebagai sebuah sistem, pada masyarakat pendukungnya berintegrasi secara struktural dan psikologis. Integrasi struktural berlangsung melalui fungsi-fungsi dari unsur-unsurnya -yang menurut Tylor (1874) terbagi atas 7 unsur yakni bahasa dan komunikasi, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, organisasi sosial, agama dan kesenian. Sedangkan integrasi secara psikologis berlangsung melalui konfigurasi seperangkat kebiasaan-kebiasaan yang hidup di masyarakat tersebut. Konfigurasi ini, menurut Parsudi Suparlan, dapat dilihat sebagai nilai-nilai, pandangan hidup, dan etos atau tujuan serta cita-cita yang ingin dicapai masyarakat, atau juga dorongan-dorongan yang bersifat umum dan mendasar untuk bertindak.

Bahasa sebagai salah satu pendukung kebudayaan pada dasarnya merupakan aspek yang sangat penting dari bangunan sebuah kebudayaan. Bahasa merupakan pendukung utama terjalinnya integrasi berbagai aspek di dalam sebuah masyarakat. Sehingga bahasa sebagai alat komunikasi menjadi jembatan utama dalam berinteraksi.

Menurut Sutarji Calzoum Bachri yang dikutip oleh Hariadi SN dalam dalam Kompas (16 November 1996) bahwa bahasa merupakan produk kebudayaan  yang hidup, yang tiap kali berubah, yang tiap kali memunculkan istilah, struktur dan gramatika dan lebih lagi cara berfikir yang kontestual. Sehingga tak satu pun bangsa yang tak menyerap bahasa bangsa lain ke dalam bahasa yang mereka gunakan. Kalaupun ada, itu hanya merupakan bahasa yang digunakan oleh suku-suku yang terasing yang tak mau bergaul dengan suku lain. Meski pun demikian, lambat laun penyerapan kosa kata bahasa lain akan terjadi.

Namun, dalam proses penyerapan tersebut tidaklah harus menjadikan sebuah bahasa tertentu teralienasi oleh masyarakat pendukungnya sendiri. Bahasa suatu bangsa dapat saja berkembang dengan mengadopsi kosa kata bahasa lain (jika memang itu tidak ada padanannya dalam bahasa yang akan mengadopsi), akan tetapi tidaklah harus menjadikan bahasa sendiri mengalami kekaburan identitas. Dan jika ini terjadi, maka kemungkinan matinya sebuah bahasa dalam masyarakatnya sendiri akan terjadi (banyak kasus untuk itu). Proses penghilangan identitas bahasa suatu bangsa ini memang terjadi secara simultan dan terus menerus serta tanpa kritik, bahkan mungkin tanpa disadari oleh pemakai bahasa bersangkutan. Dan yang menjadi salah satu aktor utama yakni media massa.

Dalam persoalan bahasa, media massa sangat berperan dalam melakukan pengaburan bahkan pembunuhan identitas bahasa suatu bangsa. Di Indonesia sendiri, media massa, seperti majalah remaja  yang terbit di Jakarta misalnya, telah melakukan hal tersebut tanpa merasa berdosa terhadap pelaku-pelaku budaya yang lain yang hidup di nusantara ini.  Bahasa yang mereka anggap sebagai bahasa pergaulan remaja-remaja, hanyalah bahasa yang berdialek Jakarta. Sedangkan bahasa remaja yang ada di berbagai pelosok daerah tidak dianggap sebagai bahasa "gaul". Padahal bangsa Indonesia merupakan akumulasi bangsa-bangsa yang hidup di Nusantara.

Maka ketika itu, masyarakat, utamanya remaja, yang menganggap dirinya modern, mau atau tidak, harus memperdalam dulu "ilmu" logat Jakartanya (kalau perlu berguru ke Jakarta atau kalau tidak berguru pada tetangga yang baru saja dari Jakarta). Kecenderungan ini, tidak dapat dipungkiri, telah  melanda kalangan remaja di Indonesia.

Kecenderungan ini ternyata lebih diperparah lagi dengan kehadiran radio-radio lokal, utamanya radio swasta. Dalam setiap siarannya hampir 90 % telah melakukan pengaburan pada identitas bahasanya sendiri. Penggunaan dialek Jakarta seakan menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk menarik para pendengar, utamanya kalangan remaja. Sehingga radio sebagai salah satu media yang secara langsung mengakses di masyarakat, memegang peranan penting dalam membangun sebuah kebudayaan, sekaligus melakukan "pembunuhan".

 

Radio Sebagai Salah Satu Wadah "Pembunuh"

Radio sebagai salah satu media yang secara langsung mengakses di masyarakat, memegang peranan penting dalam membangun sebuah kebu­dayaan, sekaligus melakukan "pembunuhan". Kecenderungan ini dapat kita di masyarakat Indonesia saat ini. Akibat gempuran media massa yang sangat gencar menyajikan moder­nitas yang disalahartikan sebagai westernisasi,  terhadap seg­men-segmen kesadaran budaya masyarakat, menyebabkan masyarakat pada akhirnya melihat semua yang datang dari Barat itulah yang dikatakan modern.

Muncullah, pemujaan westernisasi di segala bidang. Peradaban barat dipuja dan disuguhkan sedemikian rupa sebagai tipe yang ideal. Pengkultusan westernisasi ini telah melahirkan semacam antitesis terhadap kultur yang telah mengakar di masyarakat. Akar-akar kultur tersebut terus mengalami  eliminasi  dari pendu­kungnnya sendiri.

Fenomena terdistorsinya akar kultur ini mulai muncul dengan banyaknya dekonstruksi yang dilakukan terhadap pahaman masyarakat tentang sesuatu. Dalam dunia percintaan atau pengungkapan rasa cinta, misalnya, yang secara natural  inhern  dalam diri manusia pun mendapat serangan bertubi-tubi. Maka tak ayal lagi ketika Hari Valentine, yang katanya Hari Kasih sayang, itu dimeriahkan masyarakat di negara-negara barat, masyarakat negara-negara 'dunia -saya tidak sepaham dengan istilah ini- ketiga', khususnya di Indonesia pun tak ingin ketinggalan untuk tidak melakukannya.

Generasi muda, utamanya di kalangan the have, seakan dilanda sebuah kecemasan, jika pada hari itu mereka tidak dapat meraya­kannya dengan pesta yang meriah bersama teman-teman. Bahkan pada tingkat yang ekstrem, mereka tak segan-segan melakukan pesta narkoba atau pesta seks (terkadang saling tukar pasangan).

Valentine pun perlahan-lahan, mungkin tanpa disadari, telah menjelma sebagai sosok pencinta yang paling handal di muka jagat ini. Sementara mainstream asmaraloka yang selama ini dipahami masyarakat telah porak-poranda. Sedang generasi muda yang kebin­gungan mencari sosok pecinta yang mereka akan puja, telah menda­pat pemuasan keinginan. Dan paradigma tentang kualitas rasa cinta pun, kita pahami seperti yang dilakukan oleh Valentine dalam kisah-kisah yang tersebar tentang cerita cintanya.

Fenomena di atas bukanlah sebuah cerita kosong, tetapi sebuah refleksi dari hilangannya identitas budaya di masyarakat Indone­sia.  Kehilangan identitas budaya adalah sebuah kengerian yang sangat, sebab setiap bangsa pasti memiliki jagat makna dan nilai yang hidup ditengah-tengah masyarakatnya. Dan kita pun bertanya, siapa yang melakukan semua itu? Media massa, salah satunya, melalui iklan-iklannya, yang diadopsi secara besar-besaran (mungkin tanpa kendali) oleh pelaku-pelaku media.

 

Fenomena Radio di Makassar

Radio sebagai salah satu media yang memiliki peran penting dalam “pembunuhan” bahasa lokal telah melakukan “kerjanya” dengan baik. Maka, kita mungkin tak pernah lagi kaget jika mendengar sapaan akrab dengan logat Jakarta yang sering menghiasi beberapa radio swasta di kota Makassar ini. Apalagi radio-radio yang mempunyai segmen pendengar remaja, seperti Madama FM atau beberapa radio lainnya, baik yang liar atau pun legal. Radio Sonata atau Smart FM yang berada pada jalur eksekutif muda pun, melakukan hal yang sama.

Makassar memang bukan Jakarta, tapi apa yang sering kita dengar dalam komunikasi radio tersebut seakan membuat kita berada di wilayah lain. Masyarakat di kota Makassar yang sehari-harinya bergelut dengan beberapa bahasa yang hidup di Sulawesi Selatan ini, seakan merasa asing di dalam "rumahnya" sendiri. Ada sesuatu yang aneh dirasakan oleh orang-orang yang selama berpuluh tahun mendiami wilayah kulturnya. Sebuah keterasingan yang ternyata disebabkan oleh para pendukung kebudayaannya sendiri.

Maka, jika hal itu terus terjadi, masyarakat Makassar akan mengalami perasaan malu menggunakan bahasanya sendiri. Dan ketika itu pula masyarakat tanpa sadar secara perlahan akan mengalami kehilangan identitas budayanya. Bahkan akan lebih ironis lagi, jika hal tersebut terjadi di kalangan remaja.

Para remaja mengalami alienasi terhadap kebudayaannya sendiri, sebab setiap hari mereka dicekoki oleh budaya yang mereka anggap sebagai the best culture.  Remaja seakan merasa malu memiliki identitas budaya yang mereka pegang selama ini. Bahasa yang mereka kenal sejak lahir, telah dikalahkan oleh bahasa yang baru mereka kenal lewat media, baik itu audio, visual maupun cetak, yang setiap hari menghadirkan sebuah dekonstruksi ruang nilai dalam setiap individu.

Masyarakat, utamanya kaum remaja, merasa bangga ketika menggunakan bahasa "gaul" yakni bahasa dengan logat Jakarta. Dan sebaliknya akan merasa risih bahkan malu (sebab tidak ingin dikatakan tidak gaul), jika  harus menggunakan bahasa daerahnya sendiri, Bugis atau Makassar.

Jika kita mendengar radio yang ada di kota Makassar ini, maka kita akan mendengar bagaimana penyiar terkadang harus berjuang mengatasi "keseleo lidah" yang mereka alami ketika harus menggunakan logat Jakarta. Atau kalau kita pun mendengarkan para penelepon yang ingin berpartisipasi, bagaimana mereka berusaha mengingat-ingat pelajaran logat Jakarta yang baru beberapa hari dipelajarinya. Dan dalam pengungkapannya, terkadang atau bahkan sering kali muncul kecemasan-kecemasan, jika sekiranya mereka lupa pada "pelajarannya logatnya".

Fenomena ini bukanlah olok-olokan. Ini merupakan kenyataan yang sehari-hari dapat kita dengarkan di radio-radio yang tersebar di kota ini. bukan hanya kota Makassar, bahkan fenomena ini semakin menjamur di seluruh daerah TK. II. Sebuah ritual penghancuran identitas budaya (bahasa) benar-benar telah terjadi.

Maka, ketika Mahatma Gandhi mengatakan: "Aku ingin angin berbagai budaya bertiup bebas dalam rumahku, tapi aku menolak untuk tersapu jauh olehnya", kita dapat melihat betapa kesadaran lintas budaya memang menuntut wawasan yang luas, lebih lengkap, dan lebih dewasa, tapi tanpa harus kehilangan (atau merasa malu)  terhadap identitas/jati diri budaya yang selama ini kita pegang.

            "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Sebuah  pepatah yang mungkin patut untuk direnungkan.

 

 

Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Budaya Abbicara dan Ketua Komunitas Penulis Pinggiran, Makassar.