Make your own free website on Tripod.com

La Galigo dalam Masyarakat Bugis Kekinian

Oleh Idwar Anwar

 

Karya sastra merupakan sebuah karya yang lahir dari sebuah perbenturan realitas yang diramu dalam sedemikian rupa menjadi sebentuk realitas yang mungkin semu atau memang semu. Dalam pandangan Freud, ia melihat bahwa seorang sastrawan merupakan orang yang berusaha lari dari realitas di lingkungannya dan berusaha membangun sebuah realitas baru yang ia yakini sebagai realitas yang ideal. Dari sastrawan ini lahir sebuah relaitas baru dalam dunia sastra yang diyakini oleh semua orang sebuah realitas yang ideal dan mungkin saja sebagi sebuah kebenaran.

Dalam pertarungan inilah sebuah karya sastra terkadang membentuk sebuah penafsiran baru yang mungkin saja berangkat dari perbenturan dunia ideal dengan berbagai macam bentuknya.

Apa yang diucapkan Freud ini bukanlah hal yang mutlak seratus persen diamini, meski realitas baru yang dibangun dari pelarian dari realitas sesungguhnya, benar-benar terjadi dalam membangun sebuah karya sastra. Sebab terkadang karya sastra juga merupakan rangkuman dari sebuah realitas yang terus berjalan dalam ruang dan waktu sepanjang manusia itu dapat menangkapnya.

Kenyataan ini dalam perjalanan masyarakat Bugis menjadikan berbagai karya sastra terlahir termasuk sebuah karya sastra terbesar di dunia; La Galigo. La Galigo adalah sebuah karya sastra yang lahir dari perbenturan realitas dengan dunia ideal yang diyakini sebagai sebuah kebenaran.

Hal ini tidak dapat dipungkiri, sebab keberadaan La Galigo dalam masyarakat Bugis telah menjadi sesuatu yang sangat penting dan menjadi pegangan dalam kehidupan masyarakat Bugis sejak dahulu. 

Masyarakat Bugis pada dasarnya merupakan sebuah komunitas yang mempunyai etos kerja dan struktur masyarakat yang spesifik. Dan akar kebudayaan ini masih dapat ditelusuri jejak-jejaknya dari zaman lampau sampai sekarang. Hal ini antara lain dapat ditemukan pada peninggalan–peninggalan tertulis yang tertuang di dalam berbagai naskah, salah satunya yakni La Galigo.

Sebagai sebuah karya, banyak yang melihat La Galigo dalam berbagai perspektif, antara lain sebagai karya sastra bahkan ada juga yang menganggapnya sebuah tulisan sejarah, meski ada pula yang menolaknya.  Namun terlepas dari semuaya, La Galigo telah menempatkan dirinya sebagai sebuah karya yang menjadi pedoman hidup sebuah komunitas masyarakat yang hidup sampai saat ini.

R.A. Kern dalam bukunya Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigocyclus Behoorende Handschriften der Leidsche Universiteitbibliotheek yang diterbitkan  oleh  Universiteitbibliotheek Leiden (1939 : 1) menempatkan La Galigo sebagai karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia setaraf dengan kitab Mahabarata dan Ramayana dari  India, serta sajak-sajak Homerus dari Yunani­. Kenyataan ini pula diungkapkan Sirtjof Koolhof  pada pengantarnya dalam buku I La Galigo yang diterbitkan atas kerjasama Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) dan Penerbit Djambatan. (1995 : 1) mencapai lebih 300.000 baris panjangnya. Sementara Epos Mahabarata jumlah barisnya hanya antara 160.000-200.000 halaman.

Keunggulan La Galigo sebagai karya sastra bukan hanya dalam bentuk tulisan, namun juga telah menyebar dalm bentuk lisan ke berbagai daerah, sebab terbukti tokoh utama dalam La Galigo, Sawerigading, secara mitologis dikenal pada berbagai etnik di Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaysia. Karena itu, menurut Nurhayati Rahman dalam disertasinya  Sompeqna Sawerigading Lao Ri Tana Cina: Analisis Filologi dan Semiotik I La Galigo karya La Galigo benar-benar telah menempatkan dirnya menjadi karya sastra yang mampu merefleksikan dirinya dan menghegemoni dalam masyarakat. 

Sebagai karya sastra, La Galigo memiliki konvensi-konvensi yang terealisasi dalam estetika dan muatan etikanya. Keindahannya La Galigo termanifestasi pada konvensi bahasa, sastra, metrum serta alurnya. Isinya meliputi berbagai macam sumber tradisi, norma-norma, serta konsep-konsep kehidupan masyarakatnya.

Peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh dalam La Galigo bagaikan suatu pertunjukan tentang suasana kehidupan manusia Bugis beserta aktifitas sosial dan kulturalnya pada suatu zaman. Kenyataan ini menandakan bahwa La Galigo di samping fungsinya sebagai karya sastra yang memiliki estetika yang tinggi, juga mempunyai kemanfaatan sebagai sarana kebudayaan untuk kehidupan kemanusiaan. Sebab La Galigo telah berfungsi sebagai realitas baru yang dianggap ideal yang dapat dijadikan pegangan dalam kehidupan oleh masyarakatnya. 

Melihat kenyataan ini, kita masih dapat mengatakan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam La Galigo esensinya masih tertanam dalam diri masyarakat dan budaya manusia Bugis, meskipun nilai-nilai tersebut telah mengalami desakan yang kuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kenyataan ini memang tidak dapat dipungkiri. Masyarakat Bugis saat ini telah kehilangan jejek sejarahnya. Banyak yang telah hilang pada generasi saat ini.  Sehingga mungkin wajar jika dikatakan untuk memahami lebih jauh tentang manusia Bugis  dan kebudayaannya, maka hendaknya memahami pula La Galigo. 

Lantas, sejauh mana kita memahami konsepsi kehidupan bermasyarakat dengan berbagai unsur-unsurnya dalam La Galigo? Bagaimana masyarakat Bugis, khususnya, mampu merefleksikan dan mengangkat kembali nilai-nilai yang tertanam dalam karya sastra besar tersebut.

Memang saatnya kita perlu berbenah, sebab ancaman intervensi budaya telah begitu garang menerjang berbagai lapisan masyarakat kita. Di nusantara sendiri, kita bisa melihat bagaimana hegemoni budaya Jawa menerjang budaya-budaya lain, dan bukan lagi dalam konteks dialog antar budaya, melalui berbagai bentuk, seperti hegemoni bahasa.

Bukan berarti budaya Jawa tidak baik –sebab kita tidak bisa mengatakan suatu budaya dalam kerangka baik dan buruk--, namun bagaimana budaya Bugis mampu teraktualisasikan dalam masyarakatnya sendiri. Sebab sebuah kebudayaan akan hilang dengan sendirinya, jika masyarakat pendukungnya telah mulai menjauhinya.

Olehnya itu, kesadaran akan kekayaan budaya sendiri sangat diperlukan dalam kerangka membangun sebuah komunitas yang mampu melihat dirinya sendiri dalam cerminannya sendiri.

 

Penulis adalah Sekretaris Festival dan Seminar Internasional La Galigo Pusat Kegiatan Penelitian Unhas dan Ketua Komunitas Penulis Pinggiran.