Make your own free website on Tripod.com

Lingkungan Hidup, Media dan Anak-Anak

(Catatan Peringatan Konvensi Bonn 23 Juni 1979 dan KTT Bumi Juni 1992)

 

Oleh Idwar Anwar

 

Berdasarkan perkiraan para ahli demografi PBB, pada tahun 2100 mendatang, populasi jumlah penduduk di muka bumi akan berkisar antara 11,3 milyar, hingga 11,6 milyar, bahkan diperkirakan sampai pada angka 14 milyar. Perkiraan ini menunjukkan adanya tingkat pertumbuhan penduduk sebanyak 1,67 per tahun. Dari proyeksi pertumbuhan penduduk ini, sekitar 75 persen, di antaranya berada di wilayah-wilayah  negara sedang berkembang.

Kenyataan ini menunjukkan adanya angka yang sangat menakjubkan dalam prosentase pertumbuhan penduduk khususnya di negara-negara sedang berkembang. Ini juga berarti bahwa tingkat kerusakan lingkungan hidup, beberapa tahun akan datang, bahkan telah terjadi saat ini,  akan terfokus pada wilayah-wilayah ini.

Kolerasi antara akselerasi pertumbuhan penduduk dengan lingkungan hidup, memang tidak dapat diabaikan begitu saja. Jumlah penduduk yang mengalami perkembangan yang luar biasa besarnya, secara langsung akan menimbulkan tekanan pada lingkungan hidup dan sumber daya alam. Dalam artian bahwa pertumbuhan penduduk akan berimbas, pada terjadinya degradasi lingkungan hidup. Sebab pertumbuhan penduduk yang pesat, akan semakin menambah kebutuhan terhadap sumber daya alam yang tidak dapat bertambah sesuai dengan kebutuhan manusia. Tidak adanya ekuilibrium  antara pertumbuhan manusia dan lingkungannya inilah yang akan menyebabkan semakin cepatnya terjadi kerusakan pada lingkungan hidup.

Realitas ini jelas merupakan ancaman yang luar biasa. Hal ini semakin diperparah lagi oleh kenyataan-kenyataan di negara-negara berkembang, khususnya Indonesia, yang sangat gencar melakukan proses pembangunan. Program pembangunan berkelanjutan (sustainable development) oleh negara-negara berkembang akan semakin menambah ancaman keberadaan lingkungan sebagai wadah tumbuh dan berkembangnya mahluk hidup di bumi.

Program pembangunan  berkelanjutan dan laju pertumbuhan yang sangat pesat  ini memang sangat sulit untuk di atasi. Persoalannya memang sangat kompleks, terlebih pada persoalan pembangunan yang jika melihat pada prosesnya hampir tidak lagi mengindahkan dampaknya terhadap lingkungan. Hal ini sangat penting, sebab pertumbuhan penduduk yang pesat dapat terkurangi dampaknya terhadap lingkungan, jika proses pembangunan yang dilakukan tetap memperhatikan unsur-unsur pelestarian lingkungan hidup. Maka pembangunan berkelanjutan (sustainable development), harus seiring dengan pemeliharaan lingkungan yang berkelanjutan (environmental sustainability).

 Problem pembangunan dan laju pertumbuhan penduduk terhadap pengrusakan lingkungan hidup ini akan semakin bertambah dengan berlakunya otonomi daerah, di mana setiap daerah harus berupaya untuk menghidupi dirinya masing-masing. Dengan demikian daerah diharusakan memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang memadai untuk melakukan proses pembangunan tersebut. Maka tak ayal lagi, potensi sumber daya alam, menjadi sumber yang utama dalam meningkatkan PAD suatu daerah. Dengan demikian ancaman terhadap lingkungan hidup akan semakin bertambah. Terlebih  jika eksploitasi terhadap sumber daya alam terus dilakukan secara serampangan, tanpa memperdulikan aturan dan kesadaran akan konservasi lingkungan. Maka yang terjadi adalah program merusak dulu baru membangun.

Realitas ini telah terjadi di Indonesia. Sehingga sebagai negara yang memiliki biodiversity yang sangat kaya (megadiversity) selain Brasil dan Zaire, saat ini Indonesia memiliki peran yang luar biasa besarnya dalam menyelamatkan bumi dari ancaman berbagai macam kerusakan.

Keberadaan arti penting Indonesia ini juga diperkuat oleh adanya publikasi dari Norman Myers, seorang ahli ekologi dari Inggris dalam dua tulisan ilmiahnya mengenai kawasan atau ekosistem hotspot dunia yakni kawasan yang dianggap penting keanekaan hayatinya. Tulisan Myers ini semakin diperkuat oleh Conservation International (CI) yang berkedudukan di Washinton DC yang meluncurkan peta Global Biodiversity Hotspot pada tanggal 13 Februari 1997. Dari peta ini, dapat dilihat bahwa sebagian besar kawasan Indonesia, termasuk di antara 17 hotspot yang ditetapkan oleh CI. Kawasan lainnya antara lain adalah kawasan tropis Pegunungan Andes, hutan di Meso-American, Kepulauan Madagaskar, kawasan ujung Afrika (Cape and Western Cape Floristic), Antilles, Western Sunda, Eastern Sunda, Filipina, hutan Atlantik, Cerrado di Brasil, Darien-Choco dan Western Equador.

Adanya peta hotspot ini memberikan gambaran kepada kita bahwa keberadaan keanekaan hayati di  muka bumi masih cukup banyak dan terkonsentrasi di beberapa negara yang sedang berkembang dengan model pembangunan yang kebanyakan mengabaikan aspek ramah lingkungan. Peta hotspot ini juga menunjukkan kawasan tersebut mengalami ancaman akan kelestariannya. Perbedaan antara hotspot dengan hutan belantara yakni  derajat ancamannya. Kalau hotspot kawasan bervegetasi alaminya kurang dari 25 persen (beberapa di antaranya kuran dari 10 persen) yang berarti populasi manusianya cukup banyak. Sedangkan kawasan hutan belantara vegetasi alaminya masih sekitar 75 persen dengan populasi manusia tidak lebih dari lima orang per kilometer persegi. Dengan demikian ancaman akan kelestarian lingkungan hidup, khususnya hutan dengan keanekaan hayatinya, kini sangat besar terjadi di kawasan negara-negara sedang berkembang. Sebab konsentrasi keanekaan hayati berada pada kawasan tropis.

Melihat akan arti pentingnya keberadaan kekayaan alam ini, seharusnya memberikan pemahaman kepada kita untuk melakukan proses penyadaran kepada masyarakat, khususnya  yang berpotensi melakukan pengrusakan terhadap sumber daya alam tersebut. Program konservasi terhadap sumber daya alam, memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sebab banyak tantangan yang harus di hadapi. Sehingga peran berbagai komponen sangat diharapkan untuk terbinannya kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan hidup. Dan media merupakan salah satu dari komponen tersebut.

 

Peranan Media

Keberadaan media, dalam berbagai bentuknya, memiliki peranan yang sangat penting dalam meng-cover berbagai persoalan yang menyangkut  lingkungan hidup.  Kenyataan ini memang tidak dapat dipungkiri mengingat akses langsung antara media dengan pembaca, pendengar atau pemirsanya. Dengan kata lain apa yang disampaikan media dapat menyentuh langsung di masyarakat.

Meski demikian, dalam kenyataannya, media, khususnya  di Indonesia kebanyakan ternyata  hanya meng-cover berbagai berita tentang lingkungan hidup, dari sudut kepentingan politiknya. Hampir setiap berita lingkungan hidup yang kita temui, hanya terangkat jika hal itu ada dampak politiknya. Misalnya kasus terbakarnya hutan di Kalimantan atau di Sumatera beberapa tahun yang lalu. Kita hanya mendapatkan berita tentang bagaimana penduduk harus mengungsi untuk menghindari asap yang ditimbulkan oleh kebakaran.. Siapa pelaku utamanya dan sebagainya. Sangat  sedikit atau bahkan boleh dikata tidak ada yang mengangkat berita, misalnya,  tentang berapa spesies atau plasma nutfah yang mati akibat kebakaran tersebut.

Di sinilah, salah satu peran media yang sangat urgen untuk menjelaskan secara mendetail dan mendalam mengenai berbagai aspek dari kerusakan lingkungan hidup akibat kebakaran tersebut. Dan di sini peran wartawan menjadi barometer dari kualitas sebuah berita  lingkungan. Sebab terkadang sebuah media memang tidak memiliki seorang wartawan yang menguasai persoalan-persoalan lingkungan hidup. Hal ini juga yang terkadang menjadi kendala bagi sebuah media untuk menyiarkan berita lingkungan secara mendetail. Sebab sangat jarang ada wartawan yang mau serius menggeluti pemberitaan lingkungan.

Dalam kondisi kekurangan tenaga yang ingin konsis di bidang lingkungan, maka --mau tidak mau--, sebuah media, secara tidak langsung, telah memposisikan dirinya jauh dari fungsinya sebagai media pendidikan lingkungan bagi masyarakat. Sebab masyarakat harus diberi tahu sampai sedetail-detailnya mengenai persoalan apa yang berada dibalik kerusakan lingkungan. Bukan hanya kerugian secara material, atau dampak politiknya tapi pada aspek yang paling mendalam dari sebuah ekosistem.

Dalam Kode Etik wartawan lingkungan yang dikeluarkan oleh Federasi Wartawan Lingkungan Internasional (IFEJ) dijelaskan bahwa media sering dianggap satu-satunya sumber informasi mengenai lingkungan. Tugas seorang wartawan lingkungan harus berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai persoalan-persoalan lingkungan. Dengan demikian wartawan memegang peranan vital dalam mendorong masyarakat untuk berusaha melindungi lingkungan mereka.

Peran media dengan wartawannya juga harus menjelaskan mengenai ancaman-ancaman lingkungan yang akan menimpa pada skala global, regional, nasional atau lokal, jika keberadaan lingkungan terabaikan. Dengan demikian masyarakat akan semakin peduli terhadap lingkungan mereka, sebab dampaknya akan sangat berbahaya, baik terhadap dirinya secara langsung, maupun terhadap generasi sesudahnya. Dan model yang paling cocok dalam peliputan lingkungan ini ialah perpaduan antara “procces journalism dan “ini depth reporting”.

Di sinilah peran media dengan wartawannya sangat dibutuhkan. Namun memang perlu disadari bahwa masih kurang media, khususnya media cetak yang tertarik untuk menyiarkan peliputan mengenai lingkungan dalam arti yang sebenarnya. Atau juga masih kurangnya wartawan yang tertarik dengan peliputan-peliputan  lingkungan. Mungkin saja ini disebabkan karena peliputan lingkungan masih dianggap kurang prospeknya, terlebih jika dihubungkan dengan perolehan materi.

Meski demikian, harapan terhadap media dengan wartawannya  dalam memberikan pendidikan lingkungan bagi masyarakat sangat dibutuhkan. Bukan hanya pada kalangan dewasa, tapi juga –bahkan yang sangat penting-- bagi kalangan anak-anak Di mana pemberian pemahaman kepada mereka, merupakan sebuah langkah penting dalam meretas mata rantai sebuah generasi dan membangun kembali generasi baru yang memiliki komitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup.

 

Anak-Anak Sebagai Pewaris Bumi

Problem lingkungan merupakan tanggungjawab generasi sekarang. Sehingga, proses penyadaran akan arti pentingnya lingkungan bagi kemaslahatan umat manusia di bumi ini, sangat dibutuhkan. bukan hanya pada tataran para elite atau generasi tua, akan tetapi yang terpenting adalah pemahaman terhadap generasi muda, utamanya anak-anak yang merupakan pewaris bumi ini kelak.

Olehnya itu, keberadaan lembaga pendidikan, utamanya lembaga formal dalam proses ini, sangat diperlukan selain dari peran lembaga-lembaga lain, seperti media. Pemahaman akan arti pentingnya lingkungan hidup ini sangat berarti bagi generasi muda, sebab secara kuantitas keberadaan generasi muda lebih banyak dibanding generasi tua.

Dalam kaitan ini pemerintah memang telah menciptakan bentuk pengajaran pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup (PKLH). Meski cikal bakal bentuk pengajaran ini berawal pada tahun 1973, akan tetapi baru berkembang setelah tahun 1978. Akan tetapi pada kenyatan lain, kita menemukan bahwa konsep pengajaran (pendidikan) ini ternyata tidak terlalu efektif dalam memberikan pemahaman terhadap siswa, khususnya di sekolah-sekolah di daerah. Padahal mereka merupakan basis dari pemeliharaan ini.

Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya, siswa tidak memiliki keperdulian akan pentingnya pelestarian lingkungan. Dan ini lebih diperparah lagi oleh kurangnya pemahaman dan kemampuan guru dalam mengintegrasikan pola pengajaran PKLH ini. Di samping itu juga kurangnya peran media, serta lembaga-lembaga lain dalam memberikan pemahaman lingkungan terhadap anak-anak.

Oleh karenanya, anak-anak (generasi muda) sebagai  pewaris bumi ini kelak mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat. Maka segala komponen, baik pemerintah maupun lembaga non pemerintah (NGO), terlebih media, perlu semakin gencar dalam meng-cover segala informasi mengenai lingkungan. Dengan demikian, diperlukan juga media, khususnya untuk anak-anak, sehingga mereka sejak dini dapat melibatkan diri dalam pengelolaan lingkungan hidup. Dan sebagai generasi tua, kewajiban kita adalam memberikan yang terbaik bagi generasi mendatang. Sebab tidak ada harta yang lebih berharga bagi anak-anak (generasi mendatang), kecuali lingkungan yang bebas akan polusi dan segala macam kerusakan.

 

Penulis adalah Ketua Forum Pencinta Lingkungan Hidup dan Pariwisata (Forum Pelita) dan Ketua Komunitas Penulis Pinggiran.