Make your own free website on Tripod.com

Luwu, La Galigo dan Revitalisasi Budaya

(Refleksi Hari Kebangkitan Rakyat  Luwu 23 Januari)


Oleh Idwar Anwar

 

Bermula ketika, Sangianyangpajung dan Rumamakkompong dipanggil oleh PatotoE (Sang Pencipta): Sangianyangpajung, Rumamakkompong sudah tiga hari aku tak melihat kalian, balairung sepi.” Lalu, mereka pun menyembah, “Ampun, Tuanku! Kami dari tengah cakrawala bermain menyabung petir, kilat, halilintar dan guntur. Amatlah gelap gulita dan sepi di sana. Kami tidak mendengar pujaan-pujaan dipanjatkan ke langit atau dipersembahkan turun ke Peritiwi. Maka sebaiknya Tuanku menempatkan anak cucu Tuaku di di Dunia Tengah, agar tak hampa dan ada pula cahaya di sana. Apalah arti Dewata, apabila tak ada manusia yang menyembah Langit dan Peretiwi.”

Akhirnya, setelah berunding dengan Permaisurinya, Datu Palinge, disepakatilah Batara Guru untuk turun ke Dunia Tengah. Kesedihan merayapi Bottinglangi’, tidak terkecuali Batara Guru. Suara tangis menggema. Dan sejak itu pula Batara Guru diselimuti kesedihan yang luar biasa.

Namun, untuk mengurangi kesedihan Barata Guru, PatotoE meminta Guru ri Selleng untuk mengirimkan Putrinya untuk menjadi Permaisuri Batara Guru. Guru ri Selleng menyetujui maksud Kakak Iparnya itu, Dan sebagai pasangan Guru ri Selleng pun mengirim We Nyili’timo untuk menemani dan menjadi Permaisuri Batara Guru serta melahirkan  keturunan yang kelak akan menjadi cikal bakal raja-raja.

Dari perkawinan Batara Guru dan We Nyili’timo, lahirlah Batara Lattu’ yang kelak menggantikan ayahnya menjadi penguasa di Luwu. Batara Lattu’, lalu menikah dengan We Datu Senggeng, anak La Urungpessi dan We Padauleng. Dari perkawinan ini lahirlah Sawerigading (laki-laki) dan Tenriabeng (perempuan) yang merupakan saudara kembar. (kelak Sawerigading jatuh cinta pada Tenriabeng. Dari sinilah sebuah perjalanan kisah cinta Sawerigading yang menakjubkan bermula, sampai ia mendapatkan I We Cudai). Dari perkawinan Sawerigading dengan We Cudai, melahirkan I La Galigo, Tenridio dan Tenribalobo.

 

Sebuah Karya Sastra Terpanjang di Dunia

Kisah di atas adalah sepenggal cerita yang termuat dalam kitab La Galigo. Kisah-kisah tersebut dalam perkembangannya oleh para pakar telah ditinjau dari berbagai perspektif, antara lain sebagai karya sastra bahkan ada juga yang menganggapnya sebuah tulisan sejarah, sebab di dalamnya juga termuat silsilah raja-raja Luwu yang merupakan cikal bakal berbagai kerjaan, utamanya di Sulsel ini.  Namun terlepas dari semuanya, La Galigo telah menempatkan dirinya sebagai sebuah karya yang menjadi pedoman hidup masyarakatnya yang hidup sampai saat ini.

R.A. Kern dalam bukunya Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigocyclus Behoorende Handschriften der Leidsche Universiteitbibliotheek yang diterbitkan  oleh  Universiteitbibliotheek Leiden (1939 : 1) bahkan menempatkan La Galigo sebagai karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia. Kenyataan ini pula diungkapkan Sirtjof Koolhof  pada pengantarnya dalam buku I La Galigo yang diterbitkan atas kerjasama Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) dan Penerbit Djambatan. (1995 : 1) bahwa panjang La galigo mencapai lebih 300.000 baris. Sementara Epos Mahabarata jumlah barisnya hanya antara 160.000-200.000.

Keunggulan La Galigo sebagai karya sastra bukan hanya dalam bentuk tulisan, namun juga telah menyebar dalam bentuk lisan ke berbagai daerah, sebab terbukti tokoh utama dalam La Galigo, Sawerigading, secara mitologis dikenal pada berbagai etnik di Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaysia.

 

Apresiasi dan Generasi yang Hilang

Peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh dalam La Galigo bagaikan suatu pertunjukan tentang suasana kehidupan manusia beserta aktifitas sosial dan kulturalnya pada suatu zaman. Kenyataan ini menandakan bahwa La Galigo di samping fungsinya sebagai karya sastra yang memiliki estetika yang tinggi, juga mempunyai kemanfaatan sebagai sarana komunikasi budaya dari generasi ke generasi.

Namun, apa yang terjadi dewasa ini, akibat desakan yang kuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat Luwu boleh dikata telah kehilangan jejek sejarahnya. Banyak yang telah hilang pada generasi saat ini. Rangkaian cerita La Galigo tak lagi begitu dikenal oleh masyarakatnya, khususnya di Luwu sendiri. Hanya segelintir generasi muda yang tahu tentang cerita La Galigo.

Ini dapat dilihat dengan hilangnya apresiasi generasi saat ini terhadap karya besar La Galigo. Pola pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah selama ini (selama Indonesia merdeka, terlebih masa Orde Baru) ternyata telah memasung kebudayaan-kebudayaan lokal untuk berkembang. Di samping memang pemerintah daerah tidak apresiatif terhadap pendidikan yang bermuatan lokal.

Maka, apa yang kita saksikan dalam buku-buku pelajaran yang bertebaran, mulai SD sampai Perguruan Tinggi, hanyalah budaya-budaya luar. Karya sastra yang kita tahu, hanyalah kisah Mahabarata,  kisah Ramayana, atau kisah cinta Romeo dan Juliet-nya Williem Shakespear. Atau tentang kisah-kisah seperti Malingkundang, Dewi Sri sang Putri Padi ---yang masyarakat kita pun akhirnya meyakini sebagai sebuah kisah mulai munculnya tanam yang bernama Padi---, serta beberapa kisah lainnya. Atau bahkan cerita-cerita modern saat ini.

Hanya segelintir yang tahu bahwa kisah itu juga ada dalam La Galigo. Bagaimana ketangguhan dan kisah cinta Sawerigading yang sangat heroik, atau tokoh-tokoh lain dalam cerita La Galigo, yang menurut saya melebihi kisah, Ramayana, Mahabarata, serta Romeo dan Juliet. 

Lantas, apresiasi apa yang diharapkan dari sebuah generasi yang telah kehilangan identitas budaya dan jejak sejarahnya? Generasi saat ini bahkan lebih menghapal Rama dan Shinta daripada Sawerigading dan I We Cudai atau Tenriabeng.

Olehnya itu, peran La Galigo sebagai sarana komunikasi budaya dari generasi ke generasi, seharusnya kembali dihidupkan. Pemberian mata pelajaran muatan lokal, seharusnya segera diwujudkan dalam berbagai bentuk. Sebab langkah ini akan menjadi alat komunikasi yang nantinya juga akan diwariskan ke generasi selanjutnya.

 

Luwu dan Revitalisasi Budaya?

Wanua Mappatuo, Naewai Alena, bukanlah hanya sekedar ungkapan yang kosong tanpa makna. Semboyan ini juga bukan hanya sekedar semboyang yang mengarah pada bentuk-bentuk materialis, namun juga merupakan sebuah ungkapan yang mengintegrasi dalam sebuah lingkup kebudayaan.

Ini berarti bahwa selain mampu menghidupi masyarakatnya dalam bentuk materialis, seperti makanan, minuman dan tempat tinggal, namun Luwu juga mampu menghidupi dan menjaga masyarakatnya dengan sebuah akar kebudayaan yang kuat. Yang meskipun angin teknologi dan informasi bertiup kencang, akan tetap berdiri kokoh.  Jepang merupakan salah satu negara yang berhasil membangun teknologinya dengan berlandaskan pada akar budayanya.

Tapi apa yang terjadi, Luwu selama ini seperti tenggelam. Hampir tak ada lagi tanda-tanda bahwa daerah ini dulunya merupakan sebuah kerajaan besar, dan merupakan cikal-bakal kerajaan-kerajaan, khususnya di Sulsel. Akar budaya Luwu seperti tercerabut. Bahkan tenggelam dalam arus budaya yang semakin kuat.

Lantas, sejauh mana kita memahami konsepsi kehidupan bermasyarakat dengan berbagai unsur-unsurnya dalam La Galigo? Bagaimana masyarakat Luwu, khususnya, mampu bangkit merefleksikan dan mengangkat kembali nilai-nilai tradisional, khususnya yang tertanam dalam karya sastra besar tersebut. Sebuah karya sastra yang tidak dapat lagi dipungkiri kebesarannya, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Memang, saatnya kita perlu berbenah, sebab ancaman intervensi budaya telah begitu garang menerjang berbagai lapisan masyarakat kita. Di nusantara sendiri, kita bisa melihat bagaimana hegemoni budaya Jawa menerjang budaya-budaya lain, --dan bukan lagi dalam konteks dialog antar budaya--, melalui berbagai bentuk, seperti hegemoni bahasa.

Bukan berarti budaya Jawa tidak baik –sebab kita tidak bisa menempatkan suatu budaya dalam kerangka baik dan buruk--, namun bagaimana budaya Luwu mampu teraktualisasikan dalam masyarakatnya sendiri. Sebab sebuah kebudayaan akan hilang dengan sendirinya, jika masyarakat pendukungnya telah mulai menjauhinya. Olehnya itu, kesadaran akan kekayaan budaya sendiri sangat diperlukan dalam kerangka membangun sebuah komunitas yang mampu melihat dirinya sendiri dalam cerminannya sendiri.

Pemerintah Luwu, di bawah Komando DR. Kamrul Kasim, saat ini seharusnya sadar akan pentingnya membangkitkan, menjaga dan melestarikan sebuah kebudayaan dalam masyarakatnya sendiri. Terlebih dengan akan dilaksanakannya Festival dan Seminar Internasional La Galigo, seharusnya pemerintah Luwu-lah yang lebih bergairah dan bersemangat, bukan malah menutup diri dan acuh tak acuh terhadap kegiatan tersebut. Semoga pemerintah Luwu sadar akan kekhilafannya, sehingga karya besar La Galigo dapat kembali kemasyarakatnya. Rakyat Luwu harus kembali bangkit, bukan lagi dari penindasan penjajah melalui kekuatan bersenjata, terlebih pada intervensi budaya (soft teroris) yang malah lebih ganas dari perang bersenjata. Seperti kata Mahatma Gandhi, ”Aku ingin angin berbagai budaya bertiup bebas dalam rumahku, tapi aku menolak untuk tersapu jauh olehnya.”

 

Penulis adalah warga Luwu dan  Sekretaris Panitia Festival dan Seminar Internasional La Galigo.