Make your own free website on Tripod.com

Narsisme: Kecantikan dalam Jagat Makna

Oleh Idwar Anwar

 

Di sebuah salon, beberapa perempuan tampak duduk di kursi menunggu giliran, entah itu untuk di creambath, body treatment facial, atau beberapa perlakuan lainnya terhadap tubuh sebagai pemenuhan hasrat dalam jagat makna kecantikan yang ditawarkan oleh industri kecantikan. Mereka pun tak segan-segan untuk mengeluarkan uang sampai jutaan bahkan ratusan juta rupiah, hanya untuk memenuhi tuntutan konsep kecantikan yang tak bertepi. Semuanya untuk memenuhi kepuasan AKU. Semuanya ingin menikmati AKU secara utuh dan bahkan mungkin untuk  jatuh cinta kepada AKU.

            Penggambaran di atas tersirat dalam sebuah kisah tentang Narcissus, seorang anak dalam mitologi Yunani, yang begitu merana karena telah jatuh cinta pada bayangannya sendiri yang dilihatnya di air kolam. Karena begitu merananya akhirnya ia berubah menjadi bunga yang kemudian diberi nama sesuai dengan namanya. 

Dari mitos inilah sebenarnya yang memunculkan ide bagi para produsen untuk membuat dan memasang iklan, membuat pola dasar tentang konsep terhadap kepuasan diri dan keasyikan diri. Lewat iklanlah konsep kepuasan dan keasyikan diri dieksploitasi oleh para produsen menjadi sebentuk narsisme yang akhirnya mewabah di masyarakat. Seseorang perempuan, misalnya, “dipaksa” untuk mengenakan pakaian, kosmetik atau perhiasan yang ‘tepat’ menurut keinginan produsen untuk menikmati pameran AKU! 

Dalam jagat makna kecantikan, perempuanlah yang paling banyak mendapat serangan iklan. Telah banyak kasus yang menunjukkan betapa perempuan dibuat hilang jejak dalam mengkonsepsi dirinya sendiri. Mereka kemudian digiring untuk menjadi “piaraan” majikannya yang bernama produsen. Misalnya, ketika perempuan harus diperlakukan semena-mena oleh produsen mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perempuan seakan dibuat hilang kesadaran untuk mengenali dirinya sendiri, untuk kemudian dibuat tidak puas dengan dirinya. Dan setelah berhasil, mereka pun diberi “suntikan” sehingga mengalami simtom hypercare untuk kemudian berlanjut pada “pemujaan” diri sendiri yang berlebihan (narsisme).

Tidak dapat dipungkiri, manusia pada dasarnya mempunyai keinginan dan kebutuhan dasar untuk mendapat penghargaan. Namun akibat simtom yang disebarkan oleh industri kecantikan, maka orang pun merasa tidak dapat eksis dan percaya diri, kalau dirinya tidak dapat tampil dengan sejuta pesona yang telah diamininya dari berbagai iklan kecantikan. Berkulit halus, lembut dan kencang serta segar, merupakan sebagian pendukung kecantikan yang jika tidak ada pada dirinya, akan menimbulkan kecemasan-kecemasan. Mereka cemas, kalau kulitnya tidak putih atau tidak mulus. Mereka cemas kalau hidungnya tidak mancung. Mereka cemas kalau payudaranya tidak montok. Ketidakamanan atau kecemasan inilah yang terus dieksploitir oleh industri kecantikan untuk menawarkan berbagai program perawatan.

Pelaku-pelaku industri pun akan terus menumbuhkan kebutuhan-kebutuhan orang yang sebelumnya tidak ada dan tidak perlu, menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Dan untuk menjustifikasi semuanya, pelaku industri kecantikan pun memberikan label-label yang mendiskriditkan mereka yang tidak menggunakan produknya atau tidak mengamini konsep kecantikan yang mereka tawarkan. Misalnya, di Hollywood, muncul label artis berbusana terburuk yang pernah menimpa beberapa artis papan atas Hollywood. Akibatnya banyak orang yang “terpaksa” pergi ke salon atau institusi kecantikan lainnya yang pada akhirnya tanpa disadari berubah menjadi kebiasaan atau telah menjelma menjadi sebuah ritual magis yang tidak boleh ditinggalkan. Contoh yang paling ekstrim adalah ketika menjelang malam penyelenggaraan Oscar.

Begitu ketatnya jagat makna kecantikan mengekang, maka konsekuensi logisnya, akan tumbuh semacam perasaan ketergantungan pada salon atau institusi kecantikan lainnya yang diyakini sebagai sebuah institusi kecantikan yang sangat diperlukan keberadaanya. Salon atau apapun namanya dalam jagat makna kecantikan menjelma menjadi tempat yang mutlak dikunjungi atau dipakai, jika ingin tampil anggun dengan segala bentuk konsep kecantikan yang ditawarkan.  Berbagai instrumen kecantikan (lipstik, bedak, sampho, eye shadow, dsb) telah mengelilingi kehidupan sehari-hari perempuan, dalam ‘bahasa’ papan iklan, deparment store, atau pusat perbelanjaan, mal, holiday resorts, dll.

Sebuah produk seperti parfum atau lipstik bukan lagi semata-mata merupakan kosmetik, tetapi telah menjelma menjadi benda yang memiliki kekuatan magis yang memapu menghipnotis para pemakainya. Dengan kekuatan propaganda iklan, produk-produk kecantikan berusaha membangkitkan sebuah dunia mitos diri yang seakan-akan dikaruniai dengan kekuatan magis yang baru ditemukan. Dengan demikian, logika propaganda menggunakan mitos penyebarluasan dan bujukan (seduction) untuk menciptakan realitas hebat bagi para konsumen. Mimpi-mimpi tentang kecantikan pun terus ditumbuhkan.

Pola memanjakan diri, memanjakan tubuh, itulah menjadi laku kebiasaan (way of life) orang-orang yang menamakan dirinya masyarakat modern. Itulah “evolusi kebudayaan konsumer” (consumer culture evolution). Dasar dari perawatan tubuh dengan tujuan memperoleh kecantikan dalam kebudayaan konsumer cenderung akan terus meluas –atau dalam rumusan Adorno ataupun Jameson-  telah melampaui utility-nya. Setiap tahap konsumsi akan terus mendistabilisasi makna sebelumnya. Inilah yang tidak disadari oleh para konsumen.

Maka tidak perlu heran jika tidak pernah ada konsep kecantikan yang baku dalam jagat makna industri kecantikan. Untuk  meningkat ke image atau citra baru (terus melahirkan citra baru) yang dalam hal ini oleh industri kecantikan terus menerus didekonstruksi. Pendekonstruksian citraan konsep kecantikan ini terus berlanjut. Dan konsekuensi logisnya, setiap saat, konsep kecantikan terus dilahirkan, lalu didekonstruksi, kemudian dilahirkan lagi, didekonstruksi kembali dan begitu seterusnya.

Begitulah. Masyarakat terus disuguhi sesuatu yang tak pernah jelas batasan nilai-nilainya. Semuanya ditampilkan hanya untuk memenuhi keinginan produsen. Dan konsumen dipaksa hanya berdiri sebagai penonton, tanpa perlu berbuat sesuatu pun untuk melawan keinginan-keinginan tersebut. Nilai kecantikan dilahirkan memang hanya untuk didekonstruksi dan terus didenkonstruksi.        

Dengan demikian, industri kecantikan akan terus didatangi oleh orang-orang yang terus merasa dirinya tidak cantik dan berkekurangan. Namun, mereka  datang tidak lagi didasarkan pada faktor kebutuhan yang benar-benar kebutuhan, akan tetapi oleh faktor psikologi yang terus dibangun oleh para pelaku industri. Pelaku-pelaku industri ini memang tidak akan tinggal diam. Mereka akan terus memanfaatkan kekuatan-kekuatan  citraan yang terus menerus diciptakannya dan direproduksi untuk mereka yang mulanya tidak puas akan dirinya dan kemudian mengalami narsisme.

Tidak heran, jika bentuk tubuh maupun perawatan tubuh --mulai ujung rambut sampai ujung kaki-- untuk mencapai citra seperti yang dijejalkan para pelaku industri, seakan  ritual yang harus dijalani, agar diri bisa tampil sempurna. Dan orang-orang pun mungkin tidak menyadari bahwa pada dasarnya mereka telah diajarkan untuk tidak menghargai apa yang mereka miliki. Masyarakat, akhirnya tanpa menyadari,  telah kehilangan konsep diri (self concept) di dalam belantara rimba citraan (image) yang dihadirkan lewat propaganda iklan,  fashion show, kursus kepribadian, teknologi kecantikan, tempat kebugaran, atau operasi plastik dan masih banyak lagi media propaganda untuk terus mencekoki.

Konsep diri seakan-akan dapat dibeli dan dianggap sebagai sebuah komoditi. Lenyapnya konsep diri sebagai sebuah realitas telah menempatkan fenomena kepalsuan, kesemuan, dan topeng, menjadi wujud kebiadaban terhadap diri sendiri yang terus dilakukan tanpa disadari. Dan ketika diri hanyalah sebagai sebuah halusinasi, ilusi dan topeng, maka masih dapatkah kita dikatakan memiliki  identitas diri?

Pembentukan mindset seperti langsing (sebagai tubuh yang ideal), cantik (dalam konsep proyek industri yang terus didekonstruksi) dsb, telah menyebabkan tumbuh suburnya “kerajaan” industri-industri perawatan yang dianggap mampu memediasi jagat kecantikan. Orang-orang telah dijangkiti semacam penyakit ganas yang sangat sulit disembuhkan.

Sebuah ketakutan akan munculnya ketuaan, misalnya, pada akhirnya juga menyebabkan simtom hypercare ini. Dan kekuatan jerat konsep kecantikan yang dicekokkan oleh para produsen melalui kekuatan propaganda iklan ini pun, terus mendera para perempuan di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Perempuan dibuat seperti terus diawasi. Tubuh perempuan --dalam bahasa Michael Foucault sebagai tubuh produk budaya— terus dikonsepsi sedemikian rupa dalam putaran roda waktu, sehingga terus mengalami reproduksi. Maka tak ayal lagi perempuan dalam segala bentuknya telah mengalami konflik semu (pseudo conflict) dalam dirinya, antara mencintai AKU dalam jagat makna konsep diri yang hakiki atau mencintai AKU dalam jagat makna  industri kecantikan yang tak bertepi (tubuh budaya).

Dalam kondisi demikian perempuan telah diposisikan dalam dualisme, di mana keinginan untuk mengkonsepsi diri secara naluriah (hakiki) telah rongrong oleh adanya kecenderungan untuk mengkonsepsi diri dalam jagat makna industri kecantikan yang menyebar jeratnya dengan label-label budaya yang telah dikuasai oleh laki-laki.

Ketika perempuan memproklamasikan dirinya merdeka dari “penjajahan” laki-laki, maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perempuan juga harus lepas dari jerat konsep kecantikan yang sengaja terus didekonstruksi untuk menjadikan perempuan mengalami pengsubordinasian. Sebab tak dapat dipungkiri bahwa industri kecantikan terus mengontrol perempuan untuk disiplin pada aturan bentuk tubuh, penampilan, tindak tanduk, atau model pakaian. Dan dalam semua aturan industri kecantikan tersebut tersebut, perempuan harus mencurigai bahwa semuanya diciptakan dalam frame untuk terus mengukuhkan dan menjustifikasi bahwa perempuan adalah pelayan laki-laki yang harus selalu tampil sempurna dan menggairahkan.

 

Penulis adalah Aktifis Forum Kajian Perempuan Makassar dan Peneliti pada Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian, Universitas Hasanuddin.