Make your own free website on Tripod.com

Pengembaraan Konsumerisme

Oleh Idwar Anwar

 

Di sebuah  hotel berbintang lima, banyak orang yang  lunch atau dinner -yang sekali makan biayanya dapat menghidupi satu keluarga yang terdiri dari 4 jiwa selama sebulan. Para  the have seakan tak pernah puas menghambur-hamburkan uangnya hanya untuk memenuhi kepuasan-kepuasan yang tanpa batas. Semetara di sudut-sudut kesadaran mereka banyak orang yang harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Coba kita kontraskan dengan kehidupan masyarakat di desa-desa atau kaum miskin kota yang tersebar dipinggiran-pinggiran kota.

Atau, di sebuah shopping Mal yang baru saja diresmikan sebagai sebuah simbol “kerajaan“ para konsumen yang ingin melampiaskan nafsu mereka dalam sebuah jagat makna kepuasan yang tak bertepi, nampak berbagai produk kapitalis berjejer rapi dan begitu apik. Seperti sebuah panorama yang memang diciptakan untuk membuat para pengunjungnya menjadi takjub. Setiap orang seperti berlomba menjadi “raja-raja” super market.  Pusat-pusat perbelanjaan, telah menjadi surga bagi para pembeli, yang seakan menawarkan pesan tak tertulis, “Berbelanjalah Sampai Uang Anda Habis.”

Konsumerisme memang telah menguasai masyarakat modern dewasa ini. Di Indonesia konsumerisme memiliki dua makna. Pertama, gerakan atau kebijaksanaan untuk melindungi konsumen dengan menata standar kerja produsen, penjuan dan pengiklan. Sedangkan arti kedua, yakni paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (kemewahan) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, simbol status sosial, dsb. Dalam kehidupan sehari-hari, makna yang kedua inilah yang paling populer.

Pada dasarnya setiap manusia adalah konsumen. Sebab setiap manusia pasti akan membutuhkan sesuatu untuk kelangsungan hidupnya. Butuh makan, misalnya. Tapi pernah kita mau berpikir atau merenungi apa yang telah terjadi ditengah-tengah masyarakat, utamanya masyarakat di kota-kota besar, khususnya lagi para kaum yang berpunya, tentang posisi manusia sebagai konsumen. Atau bagaimana menggeledah sedikit saja perbedaan antara kebutuhan dan kesukaan.

Ketika kelompok perancang busana ingin membuat produknya, maka mereka pun membuatnya lebih didasarkan pada apa yang konsumen sukai dibanding apa yang konsumen butuhkan. Kita mungkin akan terkesiap, terutama sebagai ummat beragama yang taat,  menyaksikan aneka busana wanita yang tak lagi berfungsi sebagai penutup aurat. Pada pekan mode awal maret 2000, yang diikuti sekitar 125 perancang busana kelas internasional dan mengangkat sebuah tema  “kembalinya romantisme” sebagai sebuah refleksi beromantisme pada model-model pakaian masa lalu yang lebih religius. “Sudah waktunya menarik diri dan menjadi lebih spiritual,” kata Tom Forf, perancang busana dunia untuk perusahaan mode terbesar Gucci. Bukan hanya Tom, Giorgio Armani, raja tak bermahkota dalam dunia mode Italia pun sepakat dengan tema yang diangkat tersebut. Tapi apakah itu berarti bahwa tema-tema penonjolang kemolekan tubuh seorang wanita telah berhenti?

            Dalam  sebuah  fashion show di Paris, yang terkenal dengan julukan ‘Kota Mode’, sebuah busana wanita hasil rancangan perancang busana dunia, telah menjawab jelojak pertanyaan kegelisahan di atas. Seorang model wanita tampil dengan busana yang “rela” memperlihatkan sebelah buah dadanya.  Ada lagi model yang juga aneh, sebuah pakaian yang ‘super seksi’, dengan payudara wanita yang memakainya hanya mendapat penutup di bagian putingnya. Dan masih banyak lagi model pakaian yang “super irit’ yang menghiasi jagat mode di dunia.

Lalu, kita pun akan terperangah. Konsepsi pakaian memang telah mengalami perubahan, dari penutup tubuh (aurat) menjadi  sarana pemuasan nafsu mengkonsumsi. Sehingga jangan heran, ketika membaca di surat kabar, ada orang yang memiliki koleksi pakaian sampai ratusan bahkan ribuan. Bukan hanya pakaian, pola konsumsi ini hanya sebagian dari pola konsumsi masyarakat modern yang berlebihan (kompulsif). Sepatu,  topi, bahkan mobil pun di koleksi. Semua dibeli bukan lagi berdasarkan kebutuhan, melainkan hanya untuk memenuhi nasfu mengkonsumsi dan sebagai simbol status sosial.  Bahkan ada yang harus membongkar rumahnya, hanya karena ia tidak lagi menyukai modelnya. Atau malah membeli beberapa rumah di berbagai kawasan elit, sekali lagi, hanya untuk memenuhi keinginan mengkonsumsi. Pakaian, mobil, rumah dan segala produk modernitas lainnya, hakikat keberadaannya terus mengalami alienasi. Pakaian tidak lagi berfungsi sebagai penutup tubuh (aurat). Mobil tidak ladi berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi lebih merupakan simbol status sosial. Dan rumah tidak lagi berfungsi sebagai tempat tinggal.

Pola konsumsi ini dapat kita lihat pada sikap masyarakat terhadap keberadaan rokok. Apakah kebutuhan terhadap rokok telah memenuhi alasan-alasan yang cukup kuat untuk dipenuhi? Dan kita pun tahu meski di mana-mana -bahkan pada bungkus rokok itu sendiri-  dipampang peringatan mengenai bahaya-bahaya merokok, tapi toh masyarakat tetap saja mengkonsumsinya. Bahkan ada yang harus rela untuk tidak makan, asalkan tetap merokok.

Analisis terhadap sikap para perokok, menurut Fromm, memperlihatkan bahwa hal ini merupakan rasionalisasi. Mengkonsumsi rokok biasanya menyembunyikan kecemasan dan tekanan, dan orang-orang akan lebih memilih mengorbankan resiko kesehatan, mereka daripada harus menghadapi kecemasan. Jikalau pun orang akan berhenti merokok, bukan karena demi kesehatan fisik mereka, melainkan hanya karena mereka dapat menemukan cara kehidupan yang lebih produktif untuk menghadapi perasaan cemas atau rasa tertekan mereka.

Pola konsumsi kompulsif masyarakat modern ini, telah melahirkan sebuah kehidupan masyarakat hedonis. Kehidupan hedonisme ini pun akhirnya tumbuh dan berkembang dengan subur, seiring dengan semakin gencarnya propaganda iklan yang menjejalkan konsumerisme. 

Hedonisme yang berasal dari bahasa Yunani yakni hedone (kepuasan) merupakan pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama dalam hidup. Meski demikian sejak masa Epikurus (341-271 SM) di zaman Ancient Greek persoalan hedonisme memang telah menjadi perdebatan filosofis yang mendasar menyangkut pertanyaan, apakah kepuasan harus diartikan secara kualitatif atau kuantitatif.  Para filosof  Yunani  akhirnya merumuskan bahwa kepuasan (kebahagian) bukan semata-mata pernyataan mengenai pemenuhan terhadap kebutuhan subjektif, melainkan terhadap kebutuhan yang memiliki validitas objektif dalam hubungannya dengan pengalaman total dan potensi-potensi manusia.

Namun, angin modernisme yang bertiup kencang telah memporak-porandakan  kualifikasi yang telah diberikan para filosof tersebut. Iklim kapitalisme yang membawa materialisme  dengan pemenuhan nafsu mencari kepuasan banyak dilakukan generasi modern, secara kuantitatif dengan sesuatu yang serba kebendaan, tanpa memperhatikan kualitasnya.  Kepuasan, menurut Fromm, dalam pengertian sekarang, biasanya mengimplikasikan suatu kedangkalan dan pernyataan kejenuhan daripada kondisi yang menyertai pemenuhan pengalaman manusia. “Kepuasan“ mungkin dapat dikatakan menjadi bentuk kenikmatan yang mengasingkan.

Pola konsumerisme ini terus mengurung kesadaran masyarakat modern dan terejawantah dalam kehidupan sehari-hari.  Dan iklan sebagai motor penggerak propaganda konsumerisme pun terus meraung-raung dalam ruang kesadaran masyarakat modern yang menghamparkan sebuah bentuk kepuasan yang tak bertepi. Serta mungkin tanpa disadari pula para artis, selebritis, media massa, media elektronik, telah memposisikan diri sebagai corong propaganda dari way of life yang kompulsif  ini.

Konsumerisme memang merupakan hal yang wajar dalam kapitalisme. Karena dengan konsumerismelah sistem kapitalis akan bergerak dan hidup. Sehingga kapitalisme akan terus berusaha mendorong orang untuk  senantiasa mengkonsumsi. Dan iklan merupakan senjata paling ampuh dalam menciptakan (merekayasa) kebutuhan-kebutuhan  dan keinginan-keinginan yang tak bertepi. Kapitalisme akan menciptakan citra bahwa orang yang sukses atau sempurna adalah orang yang memiliki kelebihan dalam hal materi.  Maka yang terjadi adalah orang akan merasa gagal atau kurang sempurna jika ia belum unggul secara material (tetap miskin), meski ia orang jujur, baik dan pintar. Dan, If you are smart, why aren’t you rich?“Revolusi konsumen” melawan dominasi industri memang belum terwujud.

 

Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Budaya Abbicara dan Ketua Komunitas Penulis Pinggiran, Makassar.