Make your own free website on Tripod.com

Penyair “Muda” Makassar: Tidak Dewasa Ataukah Teraniaya

(Refleksi Terhadap Festival Puisi Internasional)

 

Oleh Idwar Anwar

 

Tidak dapat dipungkiri Sulsel dalam satu bulan terakhir ini telah menjadi tempat perhelatan internasional. Setelah acara pertemuan Mastera (Masyarakat sastra Asia tenggara) yang menghadirkan para sastrawan dari seluruh Asia Tenggara pada pertengahan bulan Maret lalu, maka sebuah acara bertaraf internasional pun menyusul. Festival dan seminar Internasiona La Galigo, yang berlangsung sehari sebelum acara Mastera berakhir, pun digelar. Acara yang menghadirkan para pembicara dari berbagai belahan dunia, seperti Prancis, Belanda, Amerika, Australia, yang bersama-sama dengan para pakar dari Indonesia, mengupas secara komprehensif sebuah karya sastra klasik terpanjang di dunia yakni Sureq Galigo.

Setelah 20 hari berlalu, sebuah perhelatan Internasional kembali berlangsung. Festival Puisi Internasional kembali menjadi kebanggaan masyarakat Sulsel. Festival yang mengusung tema Cinta, Kemanusiaan dan Perdamaian ini memang terlihat memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Syair-syair yang dibacakan benar-benar mampu menhadirkan fenomena masyarakat dunia yang sedang dilanda krisis Cinta, Kemanusiaan dan Perdamaian.

Krisis ini dapat dilihat dari karya yang dibacakan oleh Sutardji Calzoum Bachri dalam “Berdarah”.  “….Hari ini aku berdarah tapi tak satu pun sampai tahu nyeriku/ aku berteriak lengang yang menjawab…/ pedihku pedih kalian pedih kita/ kita dari pedih yang sama/ apa yang tersayat dalamku ada dalam kalian/ tapi tak mungkin kalian tahu/ masih tak.

Sutardji memang telah menghadirkan fenomena ketidakperdulian atau ketidakmampuan orang mengetahui bahwa penderitaan orang lain juga adalah penderitaanya, “apa yang tersayat dalamku ada dalam kalian/ tapi tak mungkin kalian tahu”.

Puisi Sutardji di atas hanyalah sebagian dari puluhan puisi yang dibacakan oleh berbagai penyair dari berbagai penjuru dunia di Baruga A. Pettarani Unhas sejak 2-5 April lalu.  Lantas apa yang tersisa dari perhelatan internasional itu? Atau kalau kita ingin bertanya lebih jauh lagi, apa dampak kegiatan bertaraf dunia itu bagi para penyair di Sulsel?

 

Tidak Dewasa Ataukah Teraniaya

Sejak acara pembacaan puisi berlangsung, memang tak pernah dicantumkan dalam jadwal acara bahwa para penyair “muda” Sulsel juga akan nimbrung membacakan karya-karya mereka. Mereka hanya disebut-sebut akan membacakan puisi mereka di media massa lokal.

Lantas apa yang terjadi dengan mereka. Ternyata apa yang disebut-sebut di koran tidak seperti apa yang terjadi selama acara itu berlansung. Beberapa penyair “muda” Sulsel malah menolak membacakan puisi mereka. Alasannya memang menyangkut harga diri, salah satunya bahwa mereka seolah hanya dijadikan pengisi waktu santai dan pengiring waktu makan malam.

Para penyair itu merasa mereka tidak diberi ruang yang pantas dalam rumah mereka sendiri. Mereka seperti merasa tersisih dalam rumahnya sendiri. Seperti ada yang hilang dalam diri mereka, justru di rumah mereka sendiri.

Saya masih ingat ketika menulis tanggapan terhadap tulisan Asdar dan Anil tentang keberadaan penyair di Sulsel ini beberapa waktu lalu (27/1/2002). Tulisan itu berjudul “Sastrawan Makassar, Bernafas di Antara Batu-Batu”. Ketika itu saya memaparkan tentang nasib (sastrawan) penyair “muda” di Makassar (Sulsel) ini yang bak sedang bernafas di antara batu-batu. Di Makassar, mereka seperti sangat sulit untuk bangkit dan berusaha menyamai para penyair senior Sulsel lainnya, seperti Aspar atau Husni Jamaluddin, apalagi dengan penyair luar Sulsel. Dan di sisi lain mungkin juga penyair senior Sulsel tersebut ternyata juga tidak terlalu mendapat tempat dalam jalur sastra nasional. (maaf, pernyataan ini merupakan hipotesa yang berangkat dari salah satunya yakni tidak termuatnya sajak-sajak Aspar dalam buku puisi yang diterbitkan Horison dan pernyataan W.S rendra tentang karya-karya Husni Jamaluddin ternyata bagus namun tidak begitu dikenal dalam jalur sastra nasional bahkan dunia).

Melihat kenyataan ini, penyair Makassar (Sulsel) utamanya yang masih “muda” boleh dikata selama ini seperti terkungkung dalam dunianya sendiri terlebih lagi di dunia luar (meski saat ini setelah sekian lama Husni Jamaluddin akhirnya juga mendapat tempat yang sepantasnya). Nah, lantas jika selama ini dalam rumah sendiri saja para penyair merasa terkung dan dikungkung oleh kurangnya apresiasi terhadap mereka, bagaimana lagi besarnya kekecewaan mereka jika ternyata acara yang digelar di rumah mereka sendiri yang justru dapat dijadikan ajang untuk memperkenalkan mereka ke kancah internasional, terlebih publiknya sendiri, ternyata mereka kembali “disingkirkan”.

Saya malah takut, jangan sampai para penyair Sulsel utamanya penyair “muda” akan mengalami hal yang dialami oleh Arung Pancana Toa yang tidak pernah dijadikan rujukan oleh orang Sulsel sendiri apalagi oleh orang luar dan Sureq Galigo yang tak pernah mendapat perhatian dalam rumahnya sendiri.

 

Kita hanya mengenal Roggowarsito, bahkan kembali dikutip dalam buku panduan Festival Puisi Internasional. Padahal banyak paseng toriolo yang mungkin lebih indah dan penuh makna dari apa yang diungkapkan Ronggowarsito. Kita juga lebih mengenal Ramayana, Homerus atau Mahabarata daripada cerita dalam Sureq Galigo yang memiliki nilai sastra dan ajaran yang juga tak kalah indah dan bermaknanya. Bahkan kalau dilihat dari panjangnya, Sureq Galigo hampir dua kali lipat dibanding kitab Mahabarata yang selama ini dianggap yang terpanjang di dunia. Padahal Sureq Galigo yang disusun oleh Arung Pancana Toa itu, menurutnya baru sepertiga dari karya yang sebenarnya. Tapi, apakah karya besar itu, kita sebagai pemilik, dapat memahami dengan baik? Sangat sulit untuk menjawabnya. Bagaimana lagi di kancah nasional (dikancah internasional lebih dikenal dibanding nasional) yang hanya didominasi oleh karya dari tanah Jawa dan Sumatera?

Apakah ini bukan luka yang nyeri seperti kata Sutardji? Saya bukan bermaksud mengatakan bahwa Jawa atau Sumatera telah melakukan penganiayaan terhadap karya sastra dan sastrawan Sulsel, sebab karya sastra yang “baik” pasti akan membawa nilai-nilai kemanusiaan, cinta dan perdamaian yang universal. Bukan seperti yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad terhadap karya-karya sastra Qurais ketika itu yang lebih busuk dari nanah. Atau yang diungkapkan dalam Al-Qur’an tentang seorang penyair dan syairnya.  

Tapi inilah kenyataannya. Karya-karya dari Sulsel dan daerah lain di luar Jawa, Sumatera dan Bali, seperti belum mendapat tempat secara nasional. Ya, untuk sementara kita anggap saja karya-karya mereka memang belum pantas untuk itu. Tapi, bagaimana dengan kenyataan lainnya yang menunjukkan bahwa karya dari Susel ternyata pantas seperti yang terjadi pada Sureq Galigo dan Husni Jamaluddin?

Entah kalimat apa yang pantas diucapkan untuk Anis Kaba, Asdar Muis RMS, Ram Prapanca, Anil Hukma, Alim Prasasti, Aslan A. Abidin, Muhari Wahyu Nurba, Tri Astoto Kodarie, Badaruddin Amir yang enggan (meski ada yang harus rela) membacakan puisinya dalam kancah internasional itu dengan salah satu alasan yang dikemukakan di atas? Kurang dewasa? Tidak dewasa.? Tidak tahu diri? Ataukah mereka memang telah dianiaya dalam usungan Cinta, Kemanusiaan dan Perdamaian yang menjadi maskot acara Festival Puisi Internasional itu?

 

Idwar Anwar adalam Ketua Penulis Pinggiran. Sekarang aktif pada Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora, Pusat Kegiatan penelitian Unhas dan Redaktur Pelaksana Tabloid Aliansi Baru.